
Bab 13 Lelaki Berwajah Dangdut
Kampungku, tak terbilang purnama aku telah meninggalkanmu.
Bus turun perlahan. Awan gemawan mengapung rendah, seperti singgasana yang rapuh. Kawanan angin mengejarku setelah menelisik daun-daun jarum cemara, bersiut-siut di atas jalanan yang didesaki ilalang, bersenda gurau melintasi danau-danau bening laksana kemilau batu mulia the blue topaz.
Bus makin dekat melingkari kampung, lalu aku disambut barisan bakau, seakan lengan-lengan peri yang ingin memelukku, berlapis-lapis di antara pokok berang, berlomba tinggi di lika-liku jalan setapak yang tak pernah lagi dilalui, yang kembali dikuasai gulma.
Dedaunan kecapi hijau rindang usai diguyur hujan Desember kemarin. Di dalamnya gelap, di situ bersemayam arwah-arwah kaum lanun, mati penasaran, menjadi hantu laut penunggu delta keramat. Di sela-sela akar pohon teruntum, belibis-belibis genit berebutan tempat menyiangi rumpun purun, untuk bercinta petang nanti dengan jantannya yang akan kembali dari palung-palung Sungai Mirang.
Di dahan-dahan pohon berang itu, dulu kami bergelantungan, duduk senyap, tersirap, tersihir suara sahabat kecilku Mahar yang berendam setinggi bahu, melantunkan lagu Fatwa Pujangga. Nadanya melengking tinggi, menyaingi merdu nyanyi kenari. Ia mendesahkan lagu jiwa nan bercahaya bak galena, mengalir pelan berima-rima, sayup-sayup sampai ke muara, ke pelaminan anak-anak sungai purba, lalu pasrah dilebur samudra.
Lalu kami berperang dengan buah berang. Menangkas pucuk-pucuk mudanya, berteriak-teriak tarzan, sesumbar diri anak Melayu paling perkasa, dan melompat dari lengan dahannya ke permukaan Sungai Linggang. Bak sekeluarga lumba-lumba, kami beradu berenang sampai ke ujung Semenanjung. Kawanku, tempat ini, bak miniatur nirwana. Eksotika tropikana. Tanah Air kata para jelata, tanah tumpah darah pekik para patriot, ibu pertiwi syair sajak pujangga, tanah akar ilalang bagiku. Lihatlah aku, aku anak sungai, bumi, api, dan anginmu, pulang, pulang untukmu. ¤