<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Andrea Hirata Official Site</title>
	<atom:link href="http://andrea-hirata.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://andrea-hirata.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Aug 2010 04:47:42 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Top post 2</title>
		<link>http://andrea-hirata.com/2010/07/11/top-post-2/</link>
		<comments>http://andrea-hirata.com/2010/07/11/top-post-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jul 2010 04:44:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andrea-hirata.com/?p=314</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andrea-hirata.com/2010/07/11/top-post-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Andrea Hirata: Novelis Indonesia Menuju Pentas Sastra Dunia</title>
		<link>http://andrea-hirata.com/2010/07/11/andrea-hirata-novelis-indonesia-menuju-pentas-sastra-dunia/</link>
		<comments>http://andrea-hirata.com/2010/07/11/andrea-hirata-novelis-indonesia-menuju-pentas-sastra-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jul 2010 02:43:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Dwilogi Padang Bulan]]></category>
		<category><![CDATA[Evelyn Lee]]></category>
		<category><![CDATA[Laskar Pelangi]]></category>
		<category><![CDATA[Peter Sternagel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andrea-hirata.com/?p=279</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Chloe Meslin Cousteau &#8211; www.chloemeslincousteau.multiply.com
(Catatan tentang Tetralogi Laskar Pelangi dan Dwilogi Padang Bulan. Wawancara dengan Evelyn Lee dan Peter Sternagel)


Sebelum Andrea Hirata menerbitkan novel Laskar Pelangi (2006), sulit dibayangkan sebelumnya, di Indonesia, jutaan orang akan membaca sebuah novel. Laskar Pelangi telah beredar jutaan copy dan seorang mahasiswa yang melakukan penelitian untuk sebuah tesis memperkirakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: </strong><em><strong>Chloe Meslin Cousteau &#8211; <a href="www.chloemeslincousteau.multiply.com" target="_blank">www.chloemeslincousteau.multiply.com</a></strong></em></p>
<p><em>(Catatan tentang Tetralogi Laskar Pelangi dan Dwilogi Padang Bulan. Wawancara dengan Evelyn Lee dan Peter Sternagel)</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p>Sebelum Andrea Hirata menerbitkan novel Laskar Pelangi (2006), sulit dibayangkan sebelumnya, di Indonesia, jutaan orang akan membaca sebuah novel. Laskar Pelangi telah beredar jutaan copy dan seorang mahasiswa yang melakukan penelitian untuk sebuah tesis memperkirakan tidak kurang dari 12 juta copy novel itu telah beredar secara tidak resmi (pirated copies). Ketika novel tersebut diadaptasi menjadi film, jumlah audience juga memecahkan rekor dalam sejarah film Indonesia dan telah mendapat sepuluh penghargaan internasional.</p>
<p>Laskar Pelangi adalah novel pertama Tetralogi Laskar Pelangi yaitu Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov. Pada 23 Maret 2010 telah ditandata ngani Publisher Agreement antara Penerbit Bentang Pustaka dengan Amer-Asia Books, Inc, Tucson, Arizona, USA. Peristiwa ini bukan hanya penting bagi Andrea Hirata, namun juga tonggak bagi perkembangan buku Indonesia. Karena barangkali ini untuk pertama kali penulis Indonesia direpresentasikan oleh agen buku komersial internasional sehingga karya Andrea Hirata dapat tersedia di luar Indonesia dan berkompetisi dalam industri buku global. Agreement itu sekaligus menempatkan Andrea Hirata di dalam peta no velis dunia.</p>
<p>Penerbit-penerbit luar negeri yang segera mendistribusikan Tetralogi Laskar Pelangi dalam bahasa masing-masing adalah Yillin Press (China), Nha Nam Publishing (Vietnam), Solo Press (Taiwan), Da Vinci Publishing (Korea), segera disusul kerja sama dengan Uni Agency, sebuah li t e     rary agent terkemuka di Jepang, dan penerbit-penerbit di Amerika, Australia, Jerman, Prancis, serta beberapa negara Asia dan Eropa lainnya. Novel The Rainbow Troops (edisi internasional Laskar Pelangi) sendiri mendapat sambutan hangat di berbagai festival di luar negeri (Fukuoka, Vancouver, Singapura, dan Wordstorm-Australia).</p>
<blockquote><p>Diwawancarai tentang alasan ketertarikan agen buku internasional akan Tetralogi Laskar Pelangi (The Rainbow Troops Quartet), kapasitas tulisan Andrea, dan peluangnya untuk pembaca global, Evelyn Lee, solicitor karya sastra berpengalaman dari Amer-Asia Books menjawab:<br />
<em> I am very, very enthusiastic about representing Andrea’s works. Of course, till now, the only one of his books that we have read is The Rainbow Troops, but I expect the following ones to be just as great. The reader can not help but feel strongly about the characters, their struggles &amp; hopes, and then particularly foreign readers can get an understanding and feeling for the problems brought to Indonesia by foreign countries. I do think, however that there will be greater reception of the books in some countries than in others. Also, right now, with people in so many countries having their own problems such as loss of jobs &amp; money, we are finding that many readers just want “thrillers” and police procedurals–perhaps just so they can forget their problems for a little while. We have been in contact with a number of publishers in the U.S. &amp; it is appearing to us that we will probably make a sale to one of the so-called “literary publishers” who are seeking books of true worth &amp; quality rather than the thrillers that many big publishers concentrate on. We are, however, convinced that there is a market here &amp; also a much stronger market in many other countries, particularly Europe. We have started marketing in Asia, but think that we should have sales in 20 countries where we do most of our work &amp; that this should lead to further sales. Having just started, we have already completed sales to the large. Well known Yilin Press in China that’s done many best-selling U.S. books &amp; to Nha Nam in Vietnam.</em></p></blockquote>
<p>Peter Sternagel yang saat ini sedang menerjemahkan Laskar Pelangi ke dalam bahasa Jerman berpendapat:</p>
<blockquote><p><em>Up to now from all the books Andrea wrote I only know the novel Laskar Pelangi, which I happen to translate right now. I like this book very much, because of the great variety of scenes, situations and characters Andrea presents us in this text. In general Andrea’s stories are full of humor, he is great in describing different personalities, knows how to create tension in his stories, he is an excellent observer of people, environment and nature, anyway, he is a gifted storyteller, but from time to time he likes redundancy or would exaggerate a little bit, so one has to curb him. To be frank, literature from Indonesia—and generally from South-East-Asian countries—is not so popular in Germany, would not attract so many readers. You will probably find the same situation in other European countries, may be except the Netherlands. Of course I hope with Andrea Hirata it will become different.</em></p></blockquote>
<p>Tetralogi Laskar Pelangi diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh penerjemah Amerika: Angie Kilbane dan John Colombo. Penerjemahan dilakukan sedemikian rupa sehingga edisi bahasa Inggris ini dapat dibaca dengan mudah oleh pembaca di Indonesia, terutama para siswa, untuk kajian ilmiah budaya, bahkan untuk referensi belajar bahasa Inggris. The Rainbow Troops dan The Dreamer (edisi internasional Sang Pemimpi) selain beredar di luar negeri, saat ini telah beredar pula di Indonesia. Segera disusul oleh edisi internasional Edensor dan Maryamah Karpov.</p>
<p>Novel-novel Andrea Hirata setelah Tetralogi Laskar Pelangi adalah Dwilogi Padang Bulan, yaitu dua karya Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas, dengan urutan Padang Bulan terlebih dulu. Dwilogi itu meneguhkan Andrea Hirata sebagai cultural novelist sekaligus periset sosial dan budaya. Watak manusia yang penuh kejutan, sifat-sifat unik sebuah komunitas, parodi, dan cinta, ditulis dengan cara membuka pintu-pintu baru bagi pembaca untuk melihat budaya, diri sendiri, dan memahami cinta dengan cara yang tak biasa.<br />
Keindahan kisah, kedalaman intelektualitas, humor dan histeria serta kehati-hatian sekaligus kesembronoan yang disengaja telah menjadi ciri gayanya. Dia sesungguhnya tahu arti carpe diem (Cinta di Dalam Gelas) dan tahu bahwa Benjamin Franklin tidak pernah menjadi presiden Amerika (Edensor). Ia pun dengan jeli menghindari permintaan penjelasan dari para matematikawan atas teori lirikan matanya (Padang Bulan) dengan mengambangkan kepastian panjang sebuah meja pingpong.</p>
<p>Ide tulisan dengan hasrat bereksperimen yang kuat serta kemampuan menyeimbangkan mutu dan penerimaan yang luas dari masyarakat adalah daya tarik sekaligus misteri terbesar Andrea Hirata. Ia mampu menjangkau semua kalangan. Laskar Pelangi dibaca anak berusia 7 tahun sampai profesor universitas berusia 70 tahun. Dinikmati penggila sastra sampai orang yang sama sekali tidak pernah membaca novel. Karya-karyanya diwacanakan di Fakultas Sastra, dijadikan skripsi, mas kawin, bacaan wajib di sekolah, dan dibaca orang di dalam bus kota, sambil tertawa dan menangis, sendirian. Godaan untuk membaca tulisannya telah berkembang menjadi sama besarnya dengan godaan untuk mengetahui siapa novelis eksentrik ini, sama pula besarnya dengan godaan untuk membajak karya-karyanya.</p>
<p>Andrea Hirata lulus cum laude dari program post graduate di Sheffield Hallam University, United Kingdom, melalui beasiswa Uni Eropa. Ia sempat menjalani riset di Groningen, Holland dan Sorbonne, Paris. Bidang yang ditekuninya adalah pengembangan model-model pricing, terutama untuk teori ekonomi telekomunikasi. Sebuah bidang yang sangat matematis. Ia pernah bekerja di sebuah institusi keuangan di London dan di perusahaan negara telekomunikasi di Indonesia, tapi tidak mendapat kebahagiaan di kedua tempat itu. Tahun 2010 Andrea mendapat writing scholarship dari University of Iowa, USA. Beasiswa ini  menjadi pengalaman pendidikan writing pertama bagi Andrea.</p>
<p>Saat ini Andrea lebih banyak tinggal di tempat kelahirannya di Pulau Belitong. Di pulau itulah seluruh kisah Laskar Pelangi terjadi. Film dan novel Laskar Pelangi yang telah diapresiasi secara internasional telah mengenalkan pulau itu kepada dunia dan membuatnya dijuluki Negeri Laskar Pelangi. Di sana itu Andrea tinggal bersama orangtuanya, namun lebih banyak melewatkan waktu di sebuah kabin di pinggir sungai, di tepi kampung, tanpa jaringan telepon, tanpa internet, dan tanpa listrik.</p>
<p>Setelah menyelesaikan novel Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas, Andrea berencana memelihara beberapa ekor sapi dan berharap sapi-sapi itu akan menerbitkan keinginannya kembali untuk menulis novel. Kadang-kadang ia mengisi waktu dengan sukarela mengajar matematika dan bahasa Inggris untuk anak-anak kecil, dan sesekali keluar dari Pulau itu untuk menghadiri undangan festival buku dan film di luar negeri. Ia juga sering mencoba suaranya sebagai tukang azan di masjid. Selain itu, dia banyak melamun saja. Tapi, dari kejauhan ia melihat-lihat jika di kampung ada komidi putar. Naik komidi putar adalah hobinya dari dulu hingga sekarang.</p>
<p><em><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andrea-hirata.com/2010/07/11/andrea-hirata-novelis-indonesia-menuju-pentas-sastra-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Padang Bulan</title>
		<link>http://andrea-hirata.com/2010/07/11/mozaik-1-padang-bulan/</link>
		<comments>http://andrea-hirata.com/2010/07/11/mozaik-1-padang-bulan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jul 2010 00:23:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[padang bulan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andrea-hirata.com/?p=320</guid>
		<description><![CDATA[Syalimah gembira.
Karena suaminya mengatakan akan memberinya hadiah kejutan. Syalimah tak tahan
”Aih, janganlah bersenda, Pak Cik. Kita ini orang miskin. Orang miskin tak kenal kejutan”
Mereka tersenyum
”Kejutan-kejutan begitu, kebiasaan orang kaya. Orang macam kita ni? Saban hari terkejut. Datanglah ke pasar kalau Pak Cik tak percaya”
Suaminya-Zamzami-tahu benar maksud istrinya. Harga-harga selalu membuat mereka terperanjat.
”Telah lama kauminta” kata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://andrea-hirata.com/wp-content/uploads/2010/07/cover-padang-bulan.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-323" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="cover-padang bulan" src="http://andrea-hirata.com/wp-content/uploads/2010/07/cover-padang-bulan-189x300.jpg" alt="cover-padang bulan" width="189" height="300" /></a>Syalimah gembira.</p>
<p>Karena suaminya mengatakan akan memberinya hadiah kejutan. Syalimah tak tahan</p>
<p>”Aih, janganlah bersenda, Pak Cik. Kita ini orang miskin. Orang miskin tak kenal kejutan”</p>
<p>Mereka tersenyum</p>
<p>”Kejutan-kejutan begitu, kebiasaan orang kaya. Orang macam kita ni? Saban hari terkejut. Datanglah ke pasar kalau Pak Cik tak percaya”</p>
<p>Suaminya-Zamzami-tahu benar maksud istrinya. Harga-harga selalu membuat mereka terperanjat.</p>
<p>”Telah lama kauminta” kata suaminya dengan lembut</p>
<p>Syalimah kian ingin tahu. Waktu mengantar suaminya ke pekarangan dan menyampirkan bungkus rantang bekal makanan di stang sepeda, ia bertanya lagi, Zamzami tetap tak menjawab.</p>
<p>”Sudah bertahun-tahun kauinginkan, baru bisa kubelikan sekarang, maaf”</p>
<p>Zamzami meninggalkan pekarangan, namun kembali. Ia mengatakan ingin mengajak Syalimah melihat-lihat bendungan.</p>
<p>”Apa Yahnong tak kan bekerja?”</p>
<p>Yahnong, singkatan untuk ayah bagi anak tertua mereka Enong. Kebiasaan orang Melayu menyatakan sayang pada anak tertua dengan menggabungkan nama ayah dan nama anak tertua itu.</p>
<p>”Sudah lama aku tak memboncengmu naik sepeda”</p>
<p>Bendungan itu tak jauh dari rumah mereka. Dulu dipakai Belanda untuk untuk membendung aliran anak-anak Sungai Linggang agar kapal keruk dapat beroperasi. Sampai di sana, mereka hanya diam memandangi permukaan danau yang tenang. Tak bicara, seperti mereka dulu sering bertemu di situ.</p>
<p>Mereka pulang. Zamzami berangkat kerja. Syalimah tak memikirkan soal kejutan itu. Karena ia bahkan lupa pernah meminta apa dari suaminya. Delapan belas tahun mereka telah berumah tangga, baru kali ini suaminya akan memberi kejutan. Semua hal, dalam keluarga mereka yang sederhana, amat gampang diduga. Penghasilan beberapa ribu rupiah mendulang timah,cukup untuk membeli beras berapa kilogram, untuk menyambung hidup beberapa hari. Semuanya dipahami Syalimah di luar kepala. Tak ada rahasia, tak ada yang tak biasa, dan tak ada harapan yang muluk-muluk. Tahu-tahu, macam bakung berbunga musim kemarau, suaminya ingin memberinya kejutan.</p>
<p>Syalimah dan Zamzami berjumpa waktu pengajian ketika mereka masih remaja. Zamzami yang pemalu, begitu pula Syalimah, menyimpan rasa suka diam-diam. Zamzami tak pernah berani mengatakan maksud hatinya, dan Syalimah takut menempatkan diri pada satu keadaan sehingga lelaki lugu itu dapat mendekatinya.</p>
<p>Namun, lirikan curi-curi di tengah keramain itu kian hari kian tak tertahankan. Zamzami mengurangi kecepatannya menambah juz mengaji, padahal ia membaca Al-quran lebih baik dari ia membaca huruf latin. Tujuannya agar makin lama dapat berada di dalam kelas yang sama dengan Syalimah. Berulang kali ditanyakannya pada ustad hal-hal yang dia sudah tahu. Dibentak bebal, dia tersenyum sambil menunduk. Sedangkan Syalimah, berpura-pura bodoh membaca tajwid, dimarahi ustad, biarlah. Maksudnya serupa dengan maksud Zamzami. Semua taktik yang merugikan diri sendiri itu, jika boleh disebut cinta, itulah cinta.</p>
<p>Sungguh indah, atas saran ustad-lantaran mencium gelagat yang tak beres antara dua murid mengaji yang tak tahu cara mengungkap cinta itu-mereka malah dijodohkan orang tua masing-masing.</p>
<p>Sejak mengenal Zamzami, Syalimah tahu ia akan bahagia hidup bersama lelaki itu, meski, ia juga mahfum, ada satu hal yang harus selalu ia hindari: minta dibelikan apapun. Sebab lelaki baik hati yang dicintainya itu hanyalah lelaki miskin yang berasal dari keluarga pendulang timah. Namun Syalimah tak perlu dibelikan harta benda sebab Zamzami adalah harta yang paling berharga, melebihi segalanya. Lelaki itu amat penyanyang pada keluarga, sehingga Syalimah tak memerlukan harta apapun lagi di dunia ini.</p>
<p>Menjelang tengah hari, sebuah mobil pikup berhenti di depan rumah. Dua lelaki mengangkat benda yang dibungkus dengan terpal dari bak mobil itu dan membawanya masuk ke dalam rumah. Syalimah bertanya-tanya. Mereka tak mau menjawab.</p>
<p>”Malam ini ada pasar malam di Manggar, Mak Cik” kata salah satu lelaki itu sambil tersenyum.</p>
<p>Syalimah memandangi benda itu dengan gugup tapi gembira. Pasti benda itu yang dimaksud suaminya dengan kejutan. Rupanya sungguh luar biasa pengaruh sebuah kejutan. Sekarang ia paham mengapa orang-orang kaya menyukai kejutan. Kucing-kucingnya yang lucu melingkari benda itu, menggodanya untuk mendekat. Syalimah melangkah maju, namun di tengah jalan, ia ragu. Ia kembali ke ambang pintu.</p>
<p>Syalimah menertawakan kelakuannya sendiri karena keranjingan menikmati sensasi sebuah kejutan. Lalu ia berpikir, kejutan itu tak sanggup ia atasi dan terlalu indah untuk ia nikmati sendiri. Ia akan menunggu Enong, putri tertuanya itu, pulang dari ekolah. Mereka akan menikmati kejutan itu berdua. Tentu akan sangat menyenangkan.</p>
<p>Namun Syalimah tak tahan untuk segera tahu apa yang dibelikan suaminya untuknya, sedangkan Enong baru akan pulang sore nanti. Sesekali ia melongok ke arah benda yang misterius itu. Ia memberanikan diri dan melangkah pelan mendekatinya. Di depan benda itu jantungnya berdebar-debar. Ia memejamkan mata dan menarik terpal. Ia membuka matanya dan terkejut tak kepalang melihat sesuatu berkilauan: sepeda Sim King made in RRC!</p>
<p>Syalimah terhenyak. Ia tak menyangka sepeda itu dihadiahkan Zamzami untuknya sebagai kejutan. Bukan hanya karena sepeda itu akan menjadi benda paling mahal di rumah mereka, namun karena ia memintanya hampir empat tahun silam. Itupun sesungguhnya bukan meminta. Waktu mengandung anak bungsunya, ia berkisah pada Zamzami, betapa dulu ia bahagia sering dibonceng almarhum ayahnya naik sepeda ke pasar malam, dan di sana dibelikan balon gas.</p>
<p>”Kalau anak ini lahir” kata Syalimah sambil bercanda</p>
<p>”Sepeda kita tak cukup lagi untuk membonceng anak-anak ke pasar malam” karena</p>
<p>anak mereka akan menjadi empat sedangkan mereka hanya punya dua sepeda reot.</p>
<p>Syalimah tak dapat menahan air matanya. Ia terharu mengenang suaminya telah menyimpan percakapan itu selama bertahun-tahun dan memegangnya sebagai sebuah permintaan. Betapa baik hati lelaki itu. Lalu Syalimah terisak begitu ingat bahwa hari itu hari Sabtu dan malam nanti ada pasar malam di Manggar. Kini ia paham maksud lelaki yang mengantarkan sepeda itu. Suaminya pasti merencanakan berangkat sekeluarga naik sepeda ke pasar malam. Seperti dulu ayah Syalimah selalu memboncengnya naik sepeda ke pasar malam.</p>
<p>Selanjutnya Syalimah hilir mudik di dapur menghitung bagaimana membagi anak-anaknya pada tiga sepeda. Sang ayah, satu-satunya lelaki di dalam keluarga, berarti yang paling kuat, akan membonceng keranjang pempang dan di dalamnya akan dimasukkan si nomor dua, gadis kecil yang bongsor itu.</p>
<p>Si nomor tiga, yang cerewet, akan dibonceng oleh kakanya Enong, dan si bungsu akan dibonceng ibu, naik sepeda baru Sim King made in RRC, hadiah kejutan itu. Tak terperikan bahagianya perjalanan ke pasar malam itu nanti. Meski telah menetapkan pengaturan pembagian sepeda, Syalimah berulang kali menghitungnya di dalam hati. Karena perhitungan itu menimbulkan perasaan indah dalam hatinya.</p>
<p>Kemudian Syalimah tak sabar menunggu suaminya pulang. Ia berdiri di ambang jendela, tak lepas memandangi langit yang mendung dan ujung jalan yang kosong. Ia ingin segera melihat suaminya berbelok di pertigaan di ujung jalan sana, pulang menuju rumah. Ia akan menyongsongnya di pekarangan dan mengatakan betapa indahnya sebuah kejutan. Ia mau mengatakan pula bahwa mulai saat itu mereka harus lebih sering memberi kejutan. Karena kejutan ternyata indah.</p>
<p>Syalimah gembira melihat seseorang bersepeda dengan cepat. Jika orang itu-Sirun-telah pulang, pasti suaminya segera pula pulang. Namun Sirun berbelok menuju rumah Syalimah dengan tergesa-gesa. Buruh kasar itu langsung masuk dan dengan gemetar mengatakan telah terjadi kecelakaan. Zamzami tertimbun tanah. Syalimah terpaku di tempatnya berdiri. Nafasnya tercekat. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Sirun memintanya menitipkan anak-anaknya kepada tetangga dan mengajaknya ikut ke tambang.</p>
<p>Sampai di sana, Syalimah mendengar orang berteriak-teriak panik dan menggunakan alat apa saja untuk menggali tanah yang menimbun Zamzami. Para penambang yang tak punya cangkul menggali dengan tangannya, secepat-cepatnya. Syalimah berlari dan bergabung dengan mereka. Ia menggali tanah dengan tangannya sambil tersedak-sedak memanggil-manggil suaminya. Keadaan menjadi semakin sulit karena hujan turun. Tanah yang menimbun Zamzami berubah menjadi lumpur. Para penambang berebut dengan waktu. Jika terlambat, Zamzami pasti tak tertolong dan Zamzami mulai memasuki saat-saat tak tertolong itu. Syalimah menggali seperti orang lupa diri sambil menangis, sampai berdarah ujung-ujung jarinya. Ia berdoa agar Zamzami tertimbun dalam keadaan tertelungkup. Penambang yang tertimbun dalam keadaan terlentang tak pernah dapat diselamatkan. Galian semakin dalam, Zamzami belum tampak juga. Tiba-tiba Syalimah melihat sesuatu. Ia menjerit</p>
<p>”Ini tangannya! Ini tangannya!”</p>
<p>Orang-orang menghambur ke arah tangan itu. Syalimah gemetar karena tangan yang menjulur itu terbuka. Suaminya telah tertimbun dalam keadaan terlentang. Para penambang cepat-cepat menarik Zamzami. Ketika berhasil ditarik, lelaki kurus itu tampak seperti tak bertulang. Tubuhnya telah patah. Pakaiannya compang-camping menyedihkan. Zamzami diam tak bergerak. Semuanya telah terlambat.</p>
<p>Syalimah tersedu-sedan. Ia bersimpuh di samping Zamzami yang telah mati. Ia mengangkat kepala suaminya ke atas pangkuannya. Kepala itu terkulai seperti ingin bersandar. Syalimah membasuh wajah Zamzami dengan air hujan, lalu tampak seraut wajah yang pias dan sepasang mata yang lugu. Syalimah mendekap lelaki penyayang itu kuat-kuat. Ia meratap-ratap memanggil-manggil suaminya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andrea-hirata.com/2010/07/11/mozaik-1-padang-bulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta di Dalam Gelas</title>
		<link>http://andrea-hirata.com/2010/07/11/mozaik-3-cinta-dalam-gelas/</link>
		<comments>http://andrea-hirata.com/2010/07/11/mozaik-3-cinta-dalam-gelas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 23:41:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andrea-hirata.com/?p=326</guid>
		<description><![CDATA[
Di mataku, ia tampak seperti pemberontak  Germania yang takluk diperangi tentara Praetorian dalam film-film klasik Romawi. Ia terluka. Sabetan machete melintang di bawah ketiaknya. Luka yang dalam dan panjang, membuatnya tak dapat menegakkan tubuh dengan sempurna.
Jika ia mengangkat wajah, menyorot dua bola mata yang keruh.  Alisnya serupa bulan sabit.   Tatapannya ingin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://andrea-hirata.com/wp-content/uploads/2010/07/cover-cintadidalamgelas.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-325" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="cover-cintadidalamgelas" src="http://andrea-hirata.com/wp-content/uploads/2010/07/cover-cintadidalamgelas-191x300.jpg" alt="cover-cintadidalamgelas" width="191" height="300" /></a></strong></p>
<p>Di mataku, ia tampak seperti pemberontak  Germania yang takluk diperangi tentara Praetorian dalam film-film klasik Romawi. Ia terluka. Sabetan machete melintang di bawah ketiaknya. Luka yang dalam dan panjang, membuatnya tak dapat menegakkan tubuh dengan sempurna.<br />
Jika ia mengangkat wajah, menyorot dua bola mata yang keruh.  Alisnya serupa bulan sabit.   Tatapannya ingin menelan. Kedua mata itu berbicara lebih lancang dari mulutnya, namun menyimpan rahasia  yang dalam, seperti ada cinta yang juga terluka, hidup yang tersia-sia, dan dendam yang membara.<br />
Rambutnya gondrong, tebal digulung angin laut beraroma garam, tak dapat lagi disisir karena telah kaku. Badannya yang besar dan tegap seakan menguasai seluruh warung. Penampilannya semakin ganjil, karena bahunya timpang. Konon karena ketika kecil ia membanting tulang seperti budak belian di bawah perintah pamannya yang kejam. Dari pamannya itulah ia mendapat semua keburukan dalam hidupnya,  yang kemudian membawanya menjadi orang yang paling ditakuti di pasar pagi-termasuk kawasan seputar kantor pegadaian sampai ke Jalan Sersan Munir.  Adapun wilayah depan Puskesmas sampai kantor pos, berada di bawah kuasa Daud si muka codet.</p>
<p>Tato penjara, centang-perenang di kedua lengannya. Tato di tangan kanan, seperti almanak. Menampakkan hari-hari agung yang ia lalui di balik kurungan. Yang terbaru, masih bulan lalu. Angka 7 terukir di situ. Pasti ia telah mendekam 7 hari, berikut nomor pasal yang ia telikung: 170. Itu tak lain pasal soal ketenteraman umum.</p>
<p>Setiap orang yang berpapasan, menjauh. Yang tak sempat menjauh, menunduk hormat. Yang melihatnya dari jauh, berbalik badan. Yang jauh sekali, tak tahu. Ia duduk sendiri.  Tak ditemani siapapun kecuali seekor burung merpati yang tak henti dielus-elusnya. Jaraknya dariku  terpisah tiga meja kopi.</p>
<p>Seorang begundal lain masuk ke warung, mengambil posisi dekat meja kasir. Ia jangkung dan kurus. Matanya jahat. Ia disusul seorang lain yang berbadan tegap. Berbahu landai dan bertangan panjang macam gorila. Kedua orang itu, dan sang penguasa pasar, dengan cermat menempatkan diri pada posisi untuk mengepungku.  Pengunjung warung menyingkir. Takut terlibat atau menjadi saksi dari sebuah huru-hara. Aku mulai merasa, mengapa begitu bodohnya aku sampai berurusan dengan kaum bramacorah ini?</p>
<p>Dari ketiganya aku hanya kenal orang yang terakhir masuk ke warung.  Benu, namanya. Dia mantan kuli pelabuhan yang menjadi petinju kelas bantam. Di gelanggang kota madya, aku pernah melihat keganasannya. Karena kepalanya terlalu sering kena tumbuk, Benu menjadi tuli, gagap, dan sedikit gila. Tapi pukulannya sendiri, jangan sembarang, beras 200 kilogram digantung, bergoyang seperti penyanyi  dangdut jika dihantamnya.</p>
<p>Orang-orang memperhatikanku. Siapapun membayangkan, pasti sebentar lagi terjadi keributan. Hirup pikuk pasar pagi terjebak di dalam satu sekat waktu yang berdetak melambat. Aku menaksir  situasi, ke arah mana akan kabur menyelamatkan diri.</p>
<p>Sang penguasa pasar menatapku. Terus terang, aku takut. Tiba-tiba ia menghempaskan gelas kopinya lalu bangkit, dan aku terkejut tak kepalang, seketika hancurlah seluruh kesan seram tentang dirinya. Sebab tubuhnya hanya sedikit lebih tinggi dari meja kopi. Pasti hanya sekitar 90 sentimeter saja. Ketika duduk ia tampak sangat besar. Sekarang aku paham, mengapa orang-orang menjulukinya Preman Cebol!</p>
<p>Ia berjalan terseok-seok menghampiriku. Senyumnya lebar, ramah dan senang sekali. Matanya yang tadi seram, menjadi sangat jenaka jika tersenyum. Ia telah menguasai seni menakuti orang. Dikeluarkannya sebuah amplop dari saku celana rombeng gaya koboinya</p>
<p>“Boi, tolong sampaikan ini pada Detektif M.Nur”</p>
<p>Lalu ia berbisik</p>
<p>“Bilang padanya, Ratna Mutu Manikam, manis, pintar, dan baik-baik saja. Bilang juga, operasi belalang sembah telah berlangsung. Diagram catur Matarom ada di tanganku!”</p>
<p>Adapun di situ, nun di situ, Ratna Mutu Manikam, burung merpati yang bermata genit itu, menggerung-gerung riang karena dipuja-puji tuannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andrea-hirata.com/2010/07/11/mozaik-3-cinta-dalam-gelas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Top Post</title>
		<link>http://andrea-hirata.com/2009/11/08/welcome/</link>
		<comments>http://andrea-hirata.com/2009/11/08/welcome/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 14:51:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andrea-hirata.com/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andrea-hirata.com/2009/11/08/welcome/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maryamah Karpov &#8211; Mimpi-Mimpi Lintang</title>
		<link>http://andrea-hirata.com/2009/10/31/maryamah-karpov/</link>
		<comments>http://andrea-hirata.com/2009/10/31/maryamah-karpov/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 12:22:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Belitong]]></category>
		<category><![CDATA[Bentang]]></category>
		<category><![CDATA[Mizan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andrea-hirata.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[
Bab 13  Lelaki Berwajah Dangdut
Kampungku, tak terbilang purnama aku telah meninggalkanmu.
Bus turun perlahan. Awan gemawan mengapung ren­dah, seperti singgasana yang rapuh. Kawanan angin me­ngejarku setelah menelisik daun-daun jarum cemara, bersiut-siut di atas jalanan yang didesaki ilalang, bersenda gurau melintasi danau-danau bening laksana kemilau batu mulia the blue topaz.
Bus makin dekat melingkari kampung, lalu aku disambut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-79 alignleft" style="margin: 5px;" title="MK" src="http://andrea-hirata.com/wp-content/uploads/MK.jpg" alt="MK" width="150" height="237" /></p>
<p><strong>Bab 13  Lelaki Berwajah Dangdut</strong></p>
<p>Kampungku, tak terbilang purnama aku telah meninggalkanmu.</p>
<p>Bus turun perlahan. Awan gemawan mengapung ren­dah, seperti singgasana yang rapuh. Kawanan angin me­ngejarku setelah menelisik daun-daun jarum cemara, bersiut-siut di atas jalanan yang didesaki ilalang, bersenda gurau melintasi danau-danau bening laksana kemilau batu mulia <em>the blue topaz</em>.</p>
<p>Bus makin dekat melingkari kampung, lalu aku disambut barisan bakau, seakan lengan-lengan peri yang ingin memelukku, berlapis-lapis di antara pokok berang, berlomba tinggi di lika-liku jalan setapak yang tak pernah lagi dilalui, yang kembali dikuasai gulma.<span id="more-60"></span></p>
<p>Dedaunan kecapi hijau rindang usai diguyur hujan Desember kemarin. Di dalamnya gelap, di situ bersema­yam arwah-arwah kaum lanun, mati penasaran, menjadi hantu laut penunggu delta keramat. Di sela-sela akar pohon teruntum, belibis-belibis genit berebutan tempat menyi­angi rumpun purun, untuk bercinta petang nanti dengan jantannya yang akan kembali dari palung-palung Sungai Mirang.</p>
<p>Di dahan-dahan pohon berang itu, dulu kami berge­lantungan, duduk senyap, tersirap, tersihir suara sahabat kecilku Mahar yang berendam setinggi bahu, melantunkan lagu <em>Fatwa Pujangga</em>. Nadanya melengking tinggi, menyaingi merdu nyanyi kenari. Ia mendesahkan lagu jiwa nan bercahaya bak galena, mengalir pelan berima-rima, sayup-sayup sampai ke muara, ke pelaminan anak-anak sungai purba, lalu pasrah dilebur samudra.</p>
<p>Lalu kami berperang dengan buah berang. Menangkas pucuk-pucuk mudanya, berteriak-teriak tarzan, sesumbar diri anak Melayu paling perkasa, dan melompat dari lengan dahannya ke permukaan Sungai Linggang. Bak se­keluarga lumba-lumba, kami beradu berenang sampai ke ujung Semenanjung. Kawanku, tempat ini, bak miniatur nirwana. Eksotika tropikana. Tanah Air kata para jelata, tanah tumpah darah pekik para patriot, ibu pertiwi syair sajak pujangga, tanah akar ilalang bagiku. Lihatlah aku, aku anak sungai, bumi, api, dan anginmu, pulang, pulang untukmu. ¤</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andrea-hirata.com/2009/10/31/maryamah-karpov/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Edensor</title>
		<link>http://andrea-hirata.com/2009/10/31/edensor/</link>
		<comments>http://andrea-hirata.com/2009/10/31/edensor/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 12:21:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Belitong]]></category>
		<category><![CDATA[Bentang]]></category>
		<category><![CDATA[Edensor]]></category>
		<category><![CDATA[Mizan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andrea-hirata.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[
Mozaik 6  Rahasia Gravitasi
Ketika pertama kali melihatnya, melihat paras kukunya, lebih tepatnya, aku merasa seperti dipeluk arus Sungai Linggang, berenang bersama lumba-lumba, dijemput jutaan kunang-kunang, lalu diterbangkan menuju bintang. Ia tersenyum, aku tak dapat bernapas.
“Namaku A Ling &#8230;,” katanya menyalamiku, menggenggam hatiku. Ingin kusampaikan satu nama terbaik dari deretan nama agung pemberian ayahku, tapi tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-77" style="margin: 5px;" title="e" src="http://andrea-hirata.com/wp-content/uploads/e.jpg" alt="e" width="150" height="235" /></p>
<p><strong>Mozaik 6  Rahasia Gravitasi</strong></p>
<p>Ketika pertama kali melihatnya, melihat paras kukunya, lebih tepatnya, aku merasa seperti dipeluk arus Sungai Linggang, berenang bersama lumba-lumba, dijemput jutaan kunang-kunang, lalu diterbangkan menuju bintang. Ia tersenyum, aku tak dapat bernapas.</p>
<p>“Namaku A Ling &#8230;,” katanya menyalamiku, menggenggam hatiku. Ingin kusampaikan satu nama terbaik dari deretan nama agung pemberian ayahku, tapi tak satu pun kuingat. Di depan gadis kecil Hokian itu, aku lupa semua namaku. Perasaan indah memancar sampai ke ujung-ujung simpul pembuluh darahku.<span id="more-58"></span></p>
<p>Minggu depan kami akan bertemu. Berkali-kali aku berkaca. Rupanya aku telah berkumis! Maka tak ada alasan takut untuk minta izin kepada bapaknya. Kami akan naik komidi putar! Sabtu sore, dengan enam helai kumis terhunus, kudatangi toko kelontong Sinar Harapan milik bapaknya, A Miauw. Laki-laki gendut itu sedang menjentikkan biji-biji sempoa. Melihatku, jentikannya makin keras.</p>
<p>“Ba &#8230; Ba &#8230; Baba &#8230;.”</p>
<p>“Apa Ba, Ba? Mau apa!?”</p>
<p>Sebenarnya dia tahu aku ingin mengajak putrinya.</p>
<p>“Ba, hmm &#8230; hmm &#8230; mmm &#8230;.”</p>
<p>“Apa! Mau apa!?”</p>
<p>“Begini Ba &#8230; hmm &#8230;.”</p>
<p>“Apa begini, begini?!”</p>
<p>Tiba-tiba A Ling muncul dari balik tirai. Ia menarik tanganku, kami kabur.</p>
<p>“A Ling!</p>
<p>“<em>Oi hii na boui</em>?!<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>“<em>Chon lisak</em>!!<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>“A Ling!</p>
<p>“A Liiiiing &#8230;!!</p>
<p>“Njoo Xian Liiiiiiing &#8230;!!!”</p>
<p>Teriakan bapaknya layap dan kami melayang-layang dalam komidi. Indah sekali, melebihi ledakan aurora di atas belantara Amazonia.</p>
<p>Kuberi tahu Kawan, rahasia romansa komidi putar adalah fisika sederhana: hukum gravitasi! Waktu komidi mencapai posisi empat puluh lima derajat dari porosnya, daya tarik bumi membuat mempelai dalam kurungan ayam tadi seperti akan terjungkal. A Ling histeris, takut campur manja, memeluk erat lenganku. Perasaanku melambung, melesat-lesat seperti mercon banting. Gadis Hokian itu menatapku mohon perlindungan dan aku jatuh cinta, sungguh jatuh cinta, untuk pertama kalinya.</p>
<p>***</p>
<p>Rupanya, tak ada yang lebih aneh selain orang dimabuk cinta. Segalanya tiba-tiba berubah menjadi serbabaik. Kini, dalam penglihatanku, setiap benda menjadi indah, semuanya memiliki dimensi geometris yang berseni.</p>
<p>Sekolah Muhammadiyahku yang doyong seperti gudang kopra itu ternyata bangunan kubus simetris yang efisien, bergaya etnik tropikal dengan spesifikasi multifungsi: sebagai kelas dan kadang-kadang sebagai kandang ternak. Bukankah optimal?</p>
<p>Kalong-kalong yang rakus bukan lagi tikus yang terkena kutukan tapi hewan langka familia <em>Palaeochiropteryx tupaiodon</em> yang harus dilindungi, kalau perlu dengan undang-undang. Pengganggu hewan rupawan itu tak lebih dari manusia tak tahu diri. Taikong! Haji Marhaban Hamim bin Muktamar Aminnudin nama lengkapnya, sama sekali bukan guru ngaji yang kejam, bukan, sama sekali bukan, tapi ia tak lain manusia terpilih penegak syiar Islam, ulama penting penyelamat anak-anak Melayu dari rayuan iblis. Aku mengaji dengan khusyuk. Kacamata Taikong sampai merosot, bibirnya tumpah. Ia bergegas menemui ayah ibuku.</p>
<p>“Tak pernah kulihat Ikal seperti ini, Pak Cik, teduh nian tabiatnya sekarang. Kalian apakan dia?”</p>
<p>Ayah kaget, sumringah. Ibu ternganga.</p>
<p>“Mahasuci Allah! Bu, percayakah kau sekarang?”</p>
<p>Ibu masih menganga.</p>
<p>“Apa kataku soal nama Italia itu!”</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Mau ke mana?</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Ke sini!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andrea-hirata.com/2009/10/31/edensor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sang Pemimpi &#8211; The Dreamer</title>
		<link>http://andrea-hirata.com/2009/10/31/sang-pemimpi/</link>
		<comments>http://andrea-hirata.com/2009/10/31/sang-pemimpi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 12:19:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Belitong]]></category>
		<category><![CDATA[Bentang]]></category>
		<category><![CDATA[Mizan]]></category>
		<category><![CDATA[sang pemimpi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andrea-hirata.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[
Mozaik 2 Simpai Keramat 
Arai adalah orang kebanyakan. Laki-laki seperti dia selalu bertengkar dengan tukang parkir sepeda, meributkan uang dua ratus perak. Orang seperti dia  sering duduk di bangku panjang kantor pegadaian menunggu barangnya ditaksir. Barangnya itu dulang tembaga busuk kehijau-hijauan peninggalan neneknya. Kalau polisi menciduk gerombolan bromocorah pencuri kabel telepon, orang berwajah serupa Arai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://andrea-hirata.com/wp-content/uploads/SP.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-136" style="margin: 5px;" title="SP" src="http://andrea-hirata.com/wp-content/uploads/SP-200x300.jpg" alt="SP" width="200" height="300" /></a></p>
<p align="left"><strong>Mozaik 2 Simpai Keramat</strong><strong> </strong></p>
<p>Arai adalah orang kebanyakan. Laki-laki seperti dia selalu bertengkar dengan tukang parkir sepeda, meributkan uang dua ratus perak. Orang seperti dia  sering duduk di bangku panjang kantor pegadaian menunggu barangnya ditaksir. Barangnya itu dulang tembaga busuk kehijau-hijauan peninggalan neneknya. Kalau polisi menciduk gerombolan bromocorah pencuri kabel telepon, orang berwajah serupa Arai dinaikkan ke bak mobil <em>pick up, </em>dibopong karena tulang keringnya dicuncung sepatu jatah kopral. Jika menonton TVRI, kita biasa melihat orang seperti Arai meloncat-loncat di belakang presiden agar tampak oleh kamera.<span id="more-56"></span></p>
<p>Wajah Arai laksana patung muka yang dibuat mahasiswa baru seni kriya yang baru pertama kali menjamah tanah liat, pencet sana, melendung sini. Lebih tepatnya, perabot di wajahnya seperti hasil suntikan silikon dan mulai meleleh. Suaranya kering, serak, dan nyaring, persis vokalis mengambil nada <em>falseto</em>—mungkin karena kebanyakan menangis waktu kecil. Gerak-geriknya canggung serupa belalang sembah. Tapi matanya istimewa. Di situlah pusat pesona Arai. Kedua bola matanya itu, sang jendela hati, adalah layar yang mempertontonkan jiwanya yang tak pernah kosong. <em></em></p>
<p>Sesungguhnya, aku dan Arai masih bertalian darah. Neneknya adalah adik kandung kakekku dari pihak ibu. Namun sungguh malang nasibnya. Ketika ia kelas satu SD, ibunya wafat saat melahirkan adiknya. Arai, baru enam tahun waktu itu, dan ayahnya, gemetar di samping jasad beku sang ibu yang memeluk bayi merah bersimbah darah. Anak-beranak itu meninggal bersamaan. Lalu Arai tinggal berdua dengan ayahnya. Namun, kepedihan belum mau menjauhi Arai. Menginjak kelas tiga SD, ayahnya juga wafat. Arai menjadi yatim piatu, sebatang kara. Ia kemudian dipungut keluarga kami.</p>
<p>Aku teringat, beberapa hari setelah ayahnya meninggal, dengan menumpang truk kopra, aku dan ayahku menjemput Arai. Sore itu ia sudah menunggu kami di depan tangga gubuknya. Ia berdiri sendirian di tengah belantara ladang tebu yang tak terurus. Anak kecil itu mengapit di ketiaknya karung kecampang berisi beberapa potong pakaian, sajadah, gayung tempurung kelapa, mainan buatannya sendiri, dan bingkai plastik murahan berisi foto hitam putih ayah dan ibunya ketika pengantin baru. Sebatang potlot yang kumal ia selipkan di daun telinga, penggaris kayu yang sudah patah ia sisipkan di pinggang. Tangan kirinya menggenggam beberapa lembar buku tak bersampul. Celana dan bajunya dari kain belacu lusuh dengan kancing tak lengkap. Itulah seluruh harta bendanya. Sudah berjam-jam ia menunggu kami.</p>
<p>Wajah cemasnya menjadi lega ketika melihat kami. Aku membantu membawa buku-bukunya dan kami meninggalkan gubuk berdinding lelak beratap daun itu dengan membiarkan pintu dan jendela-jendelanya terbuka, karena dipastikan tak ‘kan ada siapa-siapa untuk mengambil apa pun. Laksana terumbu karang yang menjadi rumah ikan di dasar laut, gubuk itu akan segera menjadi sarang luak, atapnya akan menjadi lumbung telur burung kinantan, tiang-tiangnya akan menjadi istana liang kumbang.</p>
<p>Kami menyelusuri jalan setapak menerobos gulma yang lebih tinggi dari kami. Kerasak tumpah ruah merubung jalan itu. Arai menengok ke belakang untuk melihat gubuknya terakhir kali. Wajahnya hampa. Lalu ia berbalik cepat dan melangkah dengan tegap. Anak sekecil itu telah belajar menguatkan dirinya. Ayahku berlinangan air mata. Dipeluknya pundak Arai erat-erat.</p>
<p>Di perjalanan aku tak banyak bicara karena hatiku ngilu mengenangkan nasib malang yang menimpa sepupu jauhku itu. Ayah duduk di atas tumpukan kopra, memalingkan wajahnya, tak sampai hati memandang Arai. Aku dan Arai duduk berdampingan di pojok bak truk yang terbanting-banting di atas jalan sepi berbatu-batu. Kami hanya diam. Arai adalah sebatang pohon kara di tengah padang karena hanya tinggal ia sendiri dari satu garis keturunan keluarganya. Ayah ibunya merupakan anak-anak tunggal dan kakek neneknya dari kedua pihak orangtuanya juga te­lah tiada. Orang Melayu memberi julukan <em>Simpai Keramat</em> untuk orang terakhir yang tersisa dari suatu klan.</p>
<p>Aku mengamati Arai. Kelihatan jelas kesusahan telah menderanya sepanjang hidup. Ia seusia denganku tapi tampak lebih dewasa. Sinar matanya jernih, polos sekali. Lalu tak dapat kutahankan air mataku mengalir. Aku tak dapat mengerti bagaimana anak semuda itu menanggungkan cobaan demikian berat sebagai <em>Simpai Keramat</em>. Arai mendekatiku lalu menghapus air mataku dengan lengan bajunya yang kumal. Tindakan itu membuat air mataku mengalir semakin deras. Sempat kulirik ayah yang mencuri-curi pandang kepada kami, wajahnya sembap dan matanya se­merah buah saga. Sepertiku, ayah tak mampu menahan perasannya melihat Arai.</p>
<p>Melihatku pilu, kupikir Arai akan ikut terharu tapi ia malah tersenyum dan pelan-pelan ia merogohan tangan ke dalam kacung kecampangnya. Air mukanya memberi kesan ia memiliki sebuah benda ajaib nan rahasia.</p>
<p>“Ikal, lihatlah ini!” bujuknya.</p>
<p>Dari dalam karung tadi ia mengeluarkan sebuah benda mainan yang aneh. Aku melirik benda itu dan aku makin pedih membayangkan ia membuat mainan itu sendiri, memainkannya juga sendiri di tengah-tengah ladang tebu. Aku tersedu sedan.</p>
<p>Tapi bagaimanapun perih hatiku aku tertarik. Mainan itu semacam gasing yang dibuat dari potongan-potongan lidi aren dan di ujung lidi-lidi itu ditancapkan beberapa butir buah kenari tua yang telah dilubangi. Sepintas bentuknya seperti helikopter. Jalinan lidi pada mainan itu agaknya mengandung konstruksi mekanis. Aku tergoda melihat Arai memutar-mutar benda itu setengah lingkaran untuk mengambil ancang-ancang. Setelah beberapa putaran, sebatang lidi besar yang menjadi tuas konstruksi itu melengkung lalu saat putaran terakhir dilepaskan, ajaib! Lengkungan tadi melawan arah menimbulkan tendangan tenaga balik yang memelintir gasing aneh itu dengan sempurna 360 derajat, berulang-ulang. Lebih seru lagi, putaran balik tadi menyebabkan butir-butir kenari saling beradu menimbulkan harmoni suara gemeretak yang menakjubkan. Aku tergelak. Mata Arai bersinar-sinar.</p>
<p>Aku tersenyum tapi tangisku tak reda karena seperti mekanika gerak balik helikopter aneh itu, Arai telah memutarbalikkan logika sentimental ini. Ia justru berusaha menghiburku pada saat aku seharusnya menghiburnya. Dadaku sesak.</p>
<p>“Cobalah, Ikal”</p>
<p>Aku merebut gasing itu, mengamatinya dengan teliti, bukan hanya sebagai mainan yang menarik hati tapi sebagai sebuah kisah tentang anak kecil yang menciptakan mainan untuk melupakan kepedihan hidupnya.</p>
<p>Aku memutar gasing itu sekali, dan terperanjat sebab tiba-tiba ia berputar sendiri dengan keras sehingga konstruksinya bingkas, lidi-lidinya patah, dan buah-buah kenari itu berhamburan ke mukaku. Aku telah memutarnya terlalu kencang. Arai terkekeh melihatku. Ia memegangi perutnya menahan tawa. Belum hilang terkejutku, Arai kembali merogohkan tangannya ke dalam karung kecampang.</p>
<p>“Masih ada lagi!”</p>
<p>Ia tersenyum penuh arti karena tahu telah berhasil menghiburku. Kali ini ia mengeluarkan sebuah cupu dari kayu medang yang berlubang-lubang. Biasa dipakai orang Melayu untuk menyimpan tembakau. Tak kusangka cupu itu telah dibelah dan sambungannya tak kasat. Arai membukanya pelan-pelan.</p>
<p>“Aiih, kumbang sagu!”</p>
<p>Aku memekik tak terkendali. Kumbang sagu, serangga mainan langka yang susah ditangkap. Jika dipelihara dan diberi makan remah kelapa, kumbang bersayap mengilat seperti tameng patriot Spartan itu dapat menjadi jinak. Tak berkedip aku melihat Arai membiarkan kumbang itu merayapi lengannya. Makhluk yang memesona itu meloncat-loncat kecil ingin terbang. Arai membelai serangga kecil itu, menggenggamnya dengan lembut lalu melemparkannya ke udara.</p>
<p>Ditiup angin kencang di atas truk kumbang itu meregangkan sayap-sayapnya, mengapung sebentar, berputar-putar merayakan kemerdekaannya lalu melesat menembus rimbun dedaunan kemang di tepi jalan. Lalu Arai melangkah menuju depan bak truk. Ia berdiri tegak di sana serupa orang berdiri di hidung haluan kapal. Pelan-pelan ia melapangkan kedua lengannya dan membiarkan angin menerpa wajahnya. Ia tersenyum penuh semangat. Agaknya ia juga bertekad memerdekakan diri­nya dari duka mengharu biru yang membelenggunya seumur hidup. Ia telah berdamai dengan kesedihan dan siap menantang nasibnya. Jahitan kancing bajunya yang rapuh satu per satu terlepas hingga bajunya melambai-lambai seperti sayap kumbang sagu tadi. Ia menggoyang-goyang tubuhnya bak rajawali di angkasa.</p>
<p>“Dunia! Sambutlah aku &#8230;! Ini aku, Arai, datang untukmu&#8230;!” Pasti itu maksudnya.</p>
<p>Ayahku tersenyum mengepalkan tinjunya kuat-kuat dan aku ingin tertawa sekeras-kerasnya, tapi aku juga ingin menangis sekeras-kerasnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andrea-hirata.com/2009/10/31/sang-pemimpi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laskar Pelangi &#8211; The Rainbow Troops</title>
		<link>http://andrea-hirata.com/2009/10/31/laskar-pelangi/</link>
		<comments>http://andrea-hirata.com/2009/10/31/laskar-pelangi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 12:16:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Belitong]]></category>
		<category><![CDATA[Bentang]]></category>
		<category><![CDATA[Laskar Pelangi]]></category>
		<category><![CDATA[Mizan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andrea-hirata.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[
BAB 1  Sepuluh Murid Baru
PAGI itu, waktu aku masih kecil, aku du­duk di bangku panjang di depan sebuah ke­las. Sebatang pohon filicium tua yang rin­dang meneduhiku. Ayahku duduk di sam­pingku, memeluk pundakku dengan kedua lengannya dan tersenyum meng­angguk-ang­guk pada setiap orangtua dan anak-anaknya yang duduk berderet-deret di bangku pan­jang lain di depan kami. Hari itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://andrea-hirata.com/wp-content/uploads/LP.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-128" style="margin: 5px;" title="LP" src="http://andrea-hirata.com/wp-content/uploads/LP-193x300.jpg" alt="LP" width="193" height="300" /></a></p>
<p><strong>BAB</strong><strong> 1  Sepuluh Murid Baru</strong></p>
<p><strong>PAGI</strong> itu, waktu aku masih kecil, aku du­duk di bangku panjang di depan sebuah ke­las. Sebatang pohon <em>filicium</em> tua yang rin­dang meneduhiku. Ayahku duduk di sam­pingku, memeluk pundakku dengan kedua lengannya dan tersenyum meng­angguk-ang­guk pada setiap orangtua dan anak-anaknya yang duduk berderet-deret di bangku pan­jang lain di depan kami. Hari itu adalah hari yang agak penting: hari pertama masuk Sekolah Dasar.</p>
<p>Di ujung bangku panjang tadi terdapat  sebuah pintu terbuka. Kosen pintu itu miring karena seluruh bangunan sekolah sudah doyong seolah akan roboh. Di mulut pintu berdiri dua orang guru se­perti para penyambut tamu dalam perhelatan. Mereka ada­lah seorang bapak tua berwajah sabar, Bapak K.A. Harfan Efendy Noor, sang kepala sekolah, dan seorang wa­nita muda berjilbab, Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu Mus. Seperti ayahku, mereka berdua juga tersenyum.</p>
<p>Namun, senyum Bu Mus adalah senyum getir yang dipaksakan karena jelas beliau sedang cemas. Wa­jah­nya tegang dan gerak-geriknya gelisah. Ia berulang kali menghitung jumlah anak-anak yang duduk di bangku pan­jang. Ia demikian khawatir sehingga tak peduli pada peluh yang mengalir masuk ke pelupuk matanya. Titik-titik keringat yang bertimbulan di seputar hidungnya menghapus bedak tepung beras yang dikenakannya, mem­buat wajah­nya coreng moreng seperti pemeran emban bagi permaisuri dalam <em>Dul Muluk</em>, sandiwara kuno kampung kami.</p>
<p>“Sembilan orang … baru sembilan orang Pamanda Gu­ru, masih kurang satu…,” katanya gusar pada bapak kepala sekolah. Pak Harfan menatapnya kosong.</p>
<p>Aku juga merasa cemas. Aku cemas karena melihat Bu Mus yang resah dan karena beban perasaan ayahku men­jalar ke sekujur tubuhku. Meskipun beliau begitu ramah pa­gi ini tapi lengan kasarnya yang melingkari leherku meng­alirkan degup jantung yang cepat. Aku tahu beliau sedang gugup, dan aku maklum bahwa tak mudah bagi seorang pria berusia empat puluh tujuh tahun, buruh tam­bang yang beranak banyak dan bergaji kecil, untuk menye­rahkan anak laki-lakinya ke sekolah. Lebih mudah me­nye­­­rahkannya pada tauke pasar pagi untuk jadi tukang parut, atau pada juragan pantai untuk menjadi kuli kopra agar dapat membantu ekonomi keluarga. Menyekolahkan anak berarti mengikatkan diri pada biaya selama belasan ta­hun dan hal itu bukan perkara gampang bagi keluarga kami.</p>
<p><em>“Kasihan ayahku ….”</em></p>
<p>Aku tak sampai hati memandang wajahnya.</p>
<p><em>“Barangkali sebaiknya aku pulang saja, melupakan ke­inginan sekolah, dan mengikuti jejak beberapa abang dan sepupu-sepupuku, menjadi kuli ….”</em></p>
<p>Tapi agaknya bukan hanya ayahku yang gentar. Setiap wajah orangtua di depanku mengesankan bahwa mereka tidak sedang duduk di bangku panjang itu, karena pikiran me­reka, seperti pikiran ayahku, melayang-layang ke pasar pagi membayangkan anak lelakinya lebih baik jadi pesuruh di sana. Para orangtua ini sama sekali tak yakin bahwa pendidikan anaknya, yang hanya mampu mereka biayai paling tinggi sampai SMP, akan dapat mempercerah masa depan keluarga. Pagi ini mereka terpaksa berada di sekolah ini demi menghindarkan diri dari celaan aparat desa karena tak menyekolahkan anak, atau sebagai orang yang terjebak tuntutan zaman baru, tun­tutan memerdekakan anak dari buta huruf.</p>
<p>Aku mengenal para orangtua dan anak-anaknya yang duduk di depanku. Kecuali seorang anak lelaki kecil kotor berambut keriting merah yang meronta-ronta dari pegangan ayahnya. Ayahnya itu tak beralas kaki dan bercelana kain be­lacu. Aku tak mengenal anak beranak itu.</p>
<p>Selebihnya adalah teman baikku. Trapani misalnya, yang duduk di pangkuan ibunya, atau Kucai yang duduk di samping ayahnya, atau Sahara, yang dari tadi marah-marah saja pada ibunya karena ia ingin segera masuk kelas, atau Syahdan yang tak diantar siapa-siapa. Kami bertetangga dan kami adalah orang-orang Me­layu Belitong dari sebuah komunitas yang paling miskin di pulau itu. Adapun sekolah ini, Sekolah Dasar  Muhammadiyah, juga sekolah kampung yang paling miskin di Belitong. Ada tiga alasan mengapa para orangtua mendaftarkan anaknya di sini. Pertama, karena sekolah Muhammadiyah tidak me­netapkan iuran dalam bentuk apa pun, para orangtua hanya menyumbang sukarela semampu mereka. Kedua, ka­rena firasat, anak-anak mereka dianggap memiliki karakter yang mudah disesatkan iblis sehingga sejak usia muda ha­rus mendapat pendadaran Islam yang tangguh. Ketiga, karena anaknya memang tak diterima di sekolah mana pun.</p>
<p>Bu Mus yang kian risau memancang pandang ke jalan raya berharap kalau-kalau masih ada pendaftar baru. Kami prihatin melihat harapan hampa itu. Maka tidak seperti suasana di Sekolah Dasar lain yang penuh kegembiraan ketika menerima murid ang­katan baru, suasana hari pertama di Sekolah Dasar  Muhammadiyah penuh dengan kegamangan, dan yang paling gamang adalah Bu Mus dan Pak Harfan.</p>
<p>Guru-guru yang sederhana itu berada dalam situasi genting karena Pengawas Sekolah dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sumatera Selatan telah memperingatkan: jika Sekolah Dasar  Muhammadiyah ha­nya mendapat murid baru kurang dari sepuluh orang maka se­kolah paling tua di Belitong ini harus ditutup. Karena itu Bu Mus dan Pak Harfan cemas sebab sekolah mereka akan tamat riwayatnya, sedangkan para orangtua cemas ka­rena biaya, dan kami, sembilan anak-anak kecil ini—yang terperangkap di tengah—cemas kalau-kalau tak jadi sekolah.</p>
<p>Tahun lalu Sekolah Dasar Muhammadiyah hanya mendapatkan sebelas siswa. Tahun ini Pak Harfan pesimis dapat me­menuhi target sepuluh. Maka diam-diam beliau telah mem­persiapkan sebuah pidato pembubaran sekolah di depan para orangtua murid. Kenyataan bahwa beliau hanya memerlukan satu siswa lagi untuk me­menuhi target itu menyebabkan pidato ini akan menjadi se­­suatu yang menyakitkan hati.</p>
<p>“Kita tunggu sampai pukul sebelas,” kata Pak Harfan pada Bu Mus dan orang-orang tua murid yang telah pasrah. Su­asana hening.</p>
<p>Wajah Bu Mus sembab menahan air mata. Aku dapat memahami perasaannya, karena harapannya pasti sama besar dengan harapan kami yang sangat ingin sekolah.  Hari ini adalah hari pertama Bu Mus menjadi guru, sebuah cita-cita yang telah diidam-idamkannya sejak lama. Minggu lalu ia baru menamatkan Sekolah Kepandaian Putri, setingkat Sekolah Mengenah Pertama, di Ibukota kabupaten, Tanjong Pandan. Usianya baru lima belas tahun. Namun sayang, semangatnya yang menggebu-gebu untuk menjadi guru akan dipatahkan oleh kenyataan yang paling pahit, yaitu sekolah terancam bubar karena kekurangan murid.</p>
<p>Bu Mus mematung di bawah lonceng memandangi lapangan sekolah yang luas dan jalan raya. Tak seorangpun muncul. Matahari kian tinggi menjelang tengah hari, menunggu satu murid bak menggantang asap.</p>
<p>Sementara itu, para orangtua mungkin menganggap kekurangan satu murid sebagai pertanda bagi anak-anaknya bahwa mereka me­mang sebaiknya didaftarkan pada para juragan saja. Adapun aku dan anak-anak yang lain merasa amat pedih: pedih pada orangtua kami yang tak mampu, pedih menyaksikan detik-detik terakhir sebuah sekolah tua yang tutup justru pada hari pertama kami ingin sekolah, dan pedih pada niat kuat kami untuk belajar tapi tinggal selangkah lagi harus terhenti hanya karena kekurangan satu murid. Kami menunduk dalam-dalam.</p>
<p>Saat itu sudah pukul sebelas kurang lima. Bu Mus tak dapat menyembunyikan kegundahannya. Cita-citanya yang besar untuk sekolah melarat ini akan gugur bahkan sebelum ia memulainya, dan tiga puluh dua tahun peng­abdian tanpa pamrih Pak Harfan,  akan ber­akhir di pagi yang sendu ini.</p>
<p>“Baru sembilan orang Pamanda Guru &#8230;,” ucap Bu Mus ber­getar sekali lagi. Ia sudah tak bisa berpikir jernih. Ia ber­ulang kali mengucapkan hal yang sama yang telah di­ketahui semua orang. Suaranya berat selayaknya orang yang tertekan batinnya.</p>
<p>Akhirnya, waktu habis karena telah pukul sebelas lewat lima dan jumlah murid tak juga genap sepuluh. Se­mangat besarku untuk sekolah perlahan-lahan runtuh. Aku melepaskan lengan ayahku dari pundakku. Sahara me­nangis terisak-isak mendekap ibunya karena ia benar-benar ingin sekolah di Sekolah Dasar Muhammadiyah. Ia memakai sepatu, kaus kaki, jilbab, dan baju, serta telah punya buku-buku, botol air minum, dan tas punggung yang semuanya baru.</p>
<p>Pak Harfan menghampiri orangtua murid dan me­nya­lami mereka satu per satu. Sebuah pemandangan yang pilu. Para orangtua menepuk-nepuk bahunya untuk mem­besar­kan hatinya. Mata Bu Mus berkilauan karena air mata yang menggenang. Pak Harfan berdiri di depan para orangtua, wa­jahnya tampak putus asa. Beliau bersiap-siap memberi­kan pidato ter­akhir. Namun ketika beliau akan mengucapkan kata pertama <em>Assalamu&#8217;­alaikum</em> seluruh ha­dirin terperanjat karena Trapani berteriak sambil menun­juk ke pinggir lapangan sekolah</p>
<p>“Harun!”</p>
<p>Kami serentak menoleh dan di kejauhan tampak se­orang pria kurus tinggi berjalan terseok-seok. Pakaian dan sisiran rambutnya sangat rapi. Ia berkemeja lengan panjang putih yang dimasukkan ke dalam. Kaki dan langkahnya mem­bentuk huruf x sehingga saat berjalan seluruh tubuh­nya bergoyang-goyang hebat. Seorang wanita gemuk sete­ngah baya yang berseri-seri susah payah memeganginya. Pria itu adalah Harun, pria jenaka sahabat kami semua, yang sudah berusia lima belas tahun, sama dengan usia Bu Mus. Harun agak terbelakang men­talnya. Ia sangat gembira dan berjalan cepat setengah berlari,  tak sabar ingin menghampiri kami. Ia tak menghiraukan ibunya yang <em>tercepuk-cepuk</em> kewalahan menggandengnya.</p>
<p>Mereka berdua hampir kehabisan napas ketika tiba di depan Pak Harfan.</p>
<p>“Bapak Guru …,” kata ibunya terengah-engah.</p>
<p>“Terimalah Harun. Sekolah Luar Biasa hanya ada di Pulau Bangka. Kami tak punya biaya untuk menyekolahkan­nya ke sana.“</p>
<p>Harun membekapkan kedua tangannya di dada. Ia riang tak kepalang. Ibunya menyambung</p>
<p>“Lagi pula lebih baik kutitipkan dia di sekolah ini daripada di rumah kerjanya hanya mengejar-ngejar anak-anak ayamku ….”</p>
<p>Harun tersenyum lebar memamerkan gigi-giginya yang kuning panjang-panjang.</p>
<p>Pak Harfan juga tersenyum, beliau melirik Bu Mus sam­bil mengangkat bahunya.</p>
<p>“Genap sepuluh orang …,” katanya.</p>
<p>Harun telah menyelamatkan kami, kami pun ber­sorak. Sahara berdiri tegak merapikan lipatan jilbabnya dan menyandang tasnya dengan gagah, ia tak mau duduk lagi. Bu Mus tersipu. Air mata guru muda ini surut dan ia me­nye­ka keringat di wajahnya yang belepotan karena ber­campur dengan bedak tepung beras.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andrea-hirata.com/2009/10/31/laskar-pelangi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
