<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Andrea Hirata Official Site &#187; Belitong</title>
	<atom:link href="http://andrea-hirata.com/tag/belitong/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://andrea-hirata.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Jun 2011 14:51:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Maryamah Karpov &#8211; Mimpi-Mimpi Lintang</title>
		<link>http://andrea-hirata.com/2009/10/31/maryamah-karpov/</link>
		<comments>http://andrea-hirata.com/2009/10/31/maryamah-karpov/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 12:22:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Belitong]]></category>
		<category><![CDATA[Bentang]]></category>
		<category><![CDATA[Mizan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andrea-hirata.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[
Bab 13  Lelaki Berwajah Dangdut
Kampungku, tak terbilang purnama aku telah meninggalkanmu.
Bus turun perlahan. Awan gemawan mengapung ren­dah, seperti singgasana yang rapuh. Kawanan angin me­ngejarku setelah menelisik daun-daun jarum cemara, bersiut-siut di atas jalanan yang didesaki ilalang, bersenda gurau melintasi danau-danau bening laksana kemilau batu mulia the blue topaz.
Bus makin dekat melingkari kampung, lalu aku disambut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-79 alignleft" style="margin: 5px;" title="MK" src="http://andrea-hirata.com/wp-content/uploads/MK.jpg" alt="MK" width="150" height="237" /></p>
<p><strong>Bab 13  Lelaki Berwajah Dangdut</strong></p>
<p>Kampungku, tak terbilang purnama aku telah meninggalkanmu.</p>
<p>Bus turun perlahan. Awan gemawan mengapung ren­dah, seperti singgasana yang rapuh. Kawanan angin me­ngejarku setelah menelisik daun-daun jarum cemara, bersiut-siut di atas jalanan yang didesaki ilalang, bersenda gurau melintasi danau-danau bening laksana kemilau batu mulia <em>the blue topaz</em>.</p>
<p>Bus makin dekat melingkari kampung, lalu aku disambut barisan bakau, seakan lengan-lengan peri yang ingin memelukku, berlapis-lapis di antara pokok berang, berlomba tinggi di lika-liku jalan setapak yang tak pernah lagi dilalui, yang kembali dikuasai gulma.<span id="more-60"></span></p>
<p>Dedaunan kecapi hijau rindang usai diguyur hujan Desember kemarin. Di dalamnya gelap, di situ bersema­yam arwah-arwah kaum lanun, mati penasaran, menjadi hantu laut penunggu delta keramat. Di sela-sela akar pohon teruntum, belibis-belibis genit berebutan tempat menyi­angi rumpun purun, untuk bercinta petang nanti dengan jantannya yang akan kembali dari palung-palung Sungai Mirang.</p>
<p>Di dahan-dahan pohon berang itu, dulu kami berge­lantungan, duduk senyap, tersirap, tersihir suara sahabat kecilku Mahar yang berendam setinggi bahu, melantunkan lagu <em>Fatwa Pujangga</em>. Nadanya melengking tinggi, menyaingi merdu nyanyi kenari. Ia mendesahkan lagu jiwa nan bercahaya bak galena, mengalir pelan berima-rima, sayup-sayup sampai ke muara, ke pelaminan anak-anak sungai purba, lalu pasrah dilebur samudra.</p>
<p>Lalu kami berperang dengan buah berang. Menangkas pucuk-pucuk mudanya, berteriak-teriak tarzan, sesumbar diri anak Melayu paling perkasa, dan melompat dari lengan dahannya ke permukaan Sungai Linggang. Bak se­keluarga lumba-lumba, kami beradu berenang sampai ke ujung Semenanjung. Kawanku, tempat ini, bak miniatur nirwana. Eksotika tropikana. Tanah Air kata para jelata, tanah tumpah darah pekik para patriot, ibu pertiwi syair sajak pujangga, tanah akar ilalang bagiku. Lihatlah aku, aku anak sungai, bumi, api, dan anginmu, pulang, pulang untukmu. ¤</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andrea-hirata.com/2009/10/31/maryamah-karpov/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Edensor</title>
		<link>http://andrea-hirata.com/2009/10/31/edensor/</link>
		<comments>http://andrea-hirata.com/2009/10/31/edensor/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 12:21:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Belitong]]></category>
		<category><![CDATA[Bentang]]></category>
		<category><![CDATA[Edensor]]></category>
		<category><![CDATA[Mizan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andrea-hirata.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[
Mozaik 6  Rahasia Gravitasi
Ketika pertama kali melihatnya, melihat paras kukunya, lebih tepatnya, aku merasa seperti dipeluk arus Sungai Linggang, berenang bersama lumba-lumba, dijemput jutaan kunang-kunang, lalu diterbangkan menuju bintang. Ia tersenyum, aku tak dapat bernapas.
“Namaku A Ling &#8230;,” katanya menyalamiku, menggenggam hatiku. Ingin kusampaikan satu nama terbaik dari deretan nama agung pemberian ayahku, tapi tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-77" style="margin: 5px;" title="e" src="http://andrea-hirata.com/wp-content/uploads/e.jpg" alt="e" width="150" height="235" /></p>
<p><strong>Mozaik 6  Rahasia Gravitasi</strong></p>
<p>Ketika pertama kali melihatnya, melihat paras kukunya, lebih tepatnya, aku merasa seperti dipeluk arus Sungai Linggang, berenang bersama lumba-lumba, dijemput jutaan kunang-kunang, lalu diterbangkan menuju bintang. Ia tersenyum, aku tak dapat bernapas.</p>
<p>“Namaku A Ling &#8230;,” katanya menyalamiku, menggenggam hatiku. Ingin kusampaikan satu nama terbaik dari deretan nama agung pemberian ayahku, tapi tak satu pun kuingat. Di depan gadis kecil Hokian itu, aku lupa semua namaku. Perasaan indah memancar sampai ke ujung-ujung simpul pembuluh darahku.<span id="more-58"></span></p>
<p>Minggu depan kami akan bertemu. Berkali-kali aku berkaca. Rupanya aku telah berkumis! Maka tak ada alasan takut untuk minta izin kepada bapaknya. Kami akan naik komidi putar! Sabtu sore, dengan enam helai kumis terhunus, kudatangi toko kelontong Sinar Harapan milik bapaknya, A Miauw. Laki-laki gendut itu sedang menjentikkan biji-biji sempoa. Melihatku, jentikannya makin keras.</p>
<p>“Ba &#8230; Ba &#8230; Baba &#8230;.”</p>
<p>“Apa Ba, Ba? Mau apa!?”</p>
<p>Sebenarnya dia tahu aku ingin mengajak putrinya.</p>
<p>“Ba, hmm &#8230; hmm &#8230; mmm &#8230;.”</p>
<p>“Apa! Mau apa!?”</p>
<p>“Begini Ba &#8230; hmm &#8230;.”</p>
<p>“Apa begini, begini?!”</p>
<p>Tiba-tiba A Ling muncul dari balik tirai. Ia menarik tanganku, kami kabur.</p>
<p>“A Ling!</p>
<p>“<em>Oi hii na boui</em>?!<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>“<em>Chon lisak</em>!!<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>“A Ling!</p>
<p>“A Liiiiing &#8230;!!</p>
<p>“Njoo Xian Liiiiiiing &#8230;!!!”</p>
<p>Teriakan bapaknya layap dan kami melayang-layang dalam komidi. Indah sekali, melebihi ledakan aurora di atas belantara Amazonia.</p>
<p>Kuberi tahu Kawan, rahasia romansa komidi putar adalah fisika sederhana: hukum gravitasi! Waktu komidi mencapai posisi empat puluh lima derajat dari porosnya, daya tarik bumi membuat mempelai dalam kurungan ayam tadi seperti akan terjungkal. A Ling histeris, takut campur manja, memeluk erat lenganku. Perasaanku melambung, melesat-lesat seperti mercon banting. Gadis Hokian itu menatapku mohon perlindungan dan aku jatuh cinta, sungguh jatuh cinta, untuk pertama kalinya.</p>
<p>***</p>
<p>Rupanya, tak ada yang lebih aneh selain orang dimabuk cinta. Segalanya tiba-tiba berubah menjadi serbabaik. Kini, dalam penglihatanku, setiap benda menjadi indah, semuanya memiliki dimensi geometris yang berseni.</p>
<p>Sekolah Muhammadiyahku yang doyong seperti gudang kopra itu ternyata bangunan kubus simetris yang efisien, bergaya etnik tropikal dengan spesifikasi multifungsi: sebagai kelas dan kadang-kadang sebagai kandang ternak. Bukankah optimal?</p>
<p>Kalong-kalong yang rakus bukan lagi tikus yang terkena kutukan tapi hewan langka familia <em>Palaeochiropteryx tupaiodon</em> yang harus dilindungi, kalau perlu dengan undang-undang. Pengganggu hewan rupawan itu tak lebih dari manusia tak tahu diri. Taikong! Haji Marhaban Hamim bin Muktamar Aminnudin nama lengkapnya, sama sekali bukan guru ngaji yang kejam, bukan, sama sekali bukan, tapi ia tak lain manusia terpilih penegak syiar Islam, ulama penting penyelamat anak-anak Melayu dari rayuan iblis. Aku mengaji dengan khusyuk. Kacamata Taikong sampai merosot, bibirnya tumpah. Ia bergegas menemui ayah ibuku.</p>
<p>“Tak pernah kulihat Ikal seperti ini, Pak Cik, teduh nian tabiatnya sekarang. Kalian apakan dia?”</p>
<p>Ayah kaget, sumringah. Ibu ternganga.</p>
<p>“Mahasuci Allah! Bu, percayakah kau sekarang?”</p>
<p>Ibu masih menganga.</p>
<p>“Apa kataku soal nama Italia itu!”</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Mau ke mana?</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Ke sini!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andrea-hirata.com/2009/10/31/edensor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sang Pemimpi &#8211; The Dreamer</title>
		<link>http://andrea-hirata.com/2009/10/31/sang-pemimpi/</link>
		<comments>http://andrea-hirata.com/2009/10/31/sang-pemimpi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 12:19:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Belitong]]></category>
		<category><![CDATA[Bentang]]></category>
		<category><![CDATA[Mizan]]></category>
		<category><![CDATA[sang pemimpi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andrea-hirata.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[
Mozaik 2 Simpai Keramat 
Arai adalah orang kebanyakan. Laki-laki seperti dia selalu bertengkar dengan tukang parkir sepeda, meributkan uang dua ratus perak. Orang seperti dia  sering duduk di bangku panjang kantor pegadaian menunggu barangnya ditaksir. Barangnya itu dulang tembaga busuk kehijau-hijauan peninggalan neneknya. Kalau polisi menciduk gerombolan bromocorah pencuri kabel telepon, orang berwajah serupa Arai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://andrea-hirata.com/wp-content/uploads/SP.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-136" style="margin: 5px;" title="SP" src="http://andrea-hirata.com/wp-content/uploads/SP-200x300.jpg" alt="SP" width="200" height="300" /></a></p>
<p align="left"><strong>Mozaik 2 Simpai Keramat</strong><strong> </strong></p>
<p>Arai adalah orang kebanyakan. Laki-laki seperti dia selalu bertengkar dengan tukang parkir sepeda, meributkan uang dua ratus perak. Orang seperti dia  sering duduk di bangku panjang kantor pegadaian menunggu barangnya ditaksir. Barangnya itu dulang tembaga busuk kehijau-hijauan peninggalan neneknya. Kalau polisi menciduk gerombolan bromocorah pencuri kabel telepon, orang berwajah serupa Arai dinaikkan ke bak mobil <em>pick up, </em>dibopong karena tulang keringnya dicuncung sepatu jatah kopral. Jika menonton TVRI, kita biasa melihat orang seperti Arai meloncat-loncat di belakang presiden agar tampak oleh kamera.<span id="more-56"></span></p>
<p>Wajah Arai laksana patung muka yang dibuat mahasiswa baru seni kriya yang baru pertama kali menjamah tanah liat, pencet sana, melendung sini. Lebih tepatnya, perabot di wajahnya seperti hasil suntikan silikon dan mulai meleleh. Suaranya kering, serak, dan nyaring, persis vokalis mengambil nada <em>falseto</em>—mungkin karena kebanyakan menangis waktu kecil. Gerak-geriknya canggung serupa belalang sembah. Tapi matanya istimewa. Di situlah pusat pesona Arai. Kedua bola matanya itu, sang jendela hati, adalah layar yang mempertontonkan jiwanya yang tak pernah kosong. <em></em></p>
<p>Sesungguhnya, aku dan Arai masih bertalian darah. Neneknya adalah adik kandung kakekku dari pihak ibu. Namun sungguh malang nasibnya. Ketika ia kelas satu SD, ibunya wafat saat melahirkan adiknya. Arai, baru enam tahun waktu itu, dan ayahnya, gemetar di samping jasad beku sang ibu yang memeluk bayi merah bersimbah darah. Anak-beranak itu meninggal bersamaan. Lalu Arai tinggal berdua dengan ayahnya. Namun, kepedihan belum mau menjauhi Arai. Menginjak kelas tiga SD, ayahnya juga wafat. Arai menjadi yatim piatu, sebatang kara. Ia kemudian dipungut keluarga kami.</p>
<p>Aku teringat, beberapa hari setelah ayahnya meninggal, dengan menumpang truk kopra, aku dan ayahku menjemput Arai. Sore itu ia sudah menunggu kami di depan tangga gubuknya. Ia berdiri sendirian di tengah belantara ladang tebu yang tak terurus. Anak kecil itu mengapit di ketiaknya karung kecampang berisi beberapa potong pakaian, sajadah, gayung tempurung kelapa, mainan buatannya sendiri, dan bingkai plastik murahan berisi foto hitam putih ayah dan ibunya ketika pengantin baru. Sebatang potlot yang kumal ia selipkan di daun telinga, penggaris kayu yang sudah patah ia sisipkan di pinggang. Tangan kirinya menggenggam beberapa lembar buku tak bersampul. Celana dan bajunya dari kain belacu lusuh dengan kancing tak lengkap. Itulah seluruh harta bendanya. Sudah berjam-jam ia menunggu kami.</p>
<p>Wajah cemasnya menjadi lega ketika melihat kami. Aku membantu membawa buku-bukunya dan kami meninggalkan gubuk berdinding lelak beratap daun itu dengan membiarkan pintu dan jendela-jendelanya terbuka, karena dipastikan tak ‘kan ada siapa-siapa untuk mengambil apa pun. Laksana terumbu karang yang menjadi rumah ikan di dasar laut, gubuk itu akan segera menjadi sarang luak, atapnya akan menjadi lumbung telur burung kinantan, tiang-tiangnya akan menjadi istana liang kumbang.</p>
<p>Kami menyelusuri jalan setapak menerobos gulma yang lebih tinggi dari kami. Kerasak tumpah ruah merubung jalan itu. Arai menengok ke belakang untuk melihat gubuknya terakhir kali. Wajahnya hampa. Lalu ia berbalik cepat dan melangkah dengan tegap. Anak sekecil itu telah belajar menguatkan dirinya. Ayahku berlinangan air mata. Dipeluknya pundak Arai erat-erat.</p>
<p>Di perjalanan aku tak banyak bicara karena hatiku ngilu mengenangkan nasib malang yang menimpa sepupu jauhku itu. Ayah duduk di atas tumpukan kopra, memalingkan wajahnya, tak sampai hati memandang Arai. Aku dan Arai duduk berdampingan di pojok bak truk yang terbanting-banting di atas jalan sepi berbatu-batu. Kami hanya diam. Arai adalah sebatang pohon kara di tengah padang karena hanya tinggal ia sendiri dari satu garis keturunan keluarganya. Ayah ibunya merupakan anak-anak tunggal dan kakek neneknya dari kedua pihak orangtuanya juga te­lah tiada. Orang Melayu memberi julukan <em>Simpai Keramat</em> untuk orang terakhir yang tersisa dari suatu klan.</p>
<p>Aku mengamati Arai. Kelihatan jelas kesusahan telah menderanya sepanjang hidup. Ia seusia denganku tapi tampak lebih dewasa. Sinar matanya jernih, polos sekali. Lalu tak dapat kutahankan air mataku mengalir. Aku tak dapat mengerti bagaimana anak semuda itu menanggungkan cobaan demikian berat sebagai <em>Simpai Keramat</em>. Arai mendekatiku lalu menghapus air mataku dengan lengan bajunya yang kumal. Tindakan itu membuat air mataku mengalir semakin deras. Sempat kulirik ayah yang mencuri-curi pandang kepada kami, wajahnya sembap dan matanya se­merah buah saga. Sepertiku, ayah tak mampu menahan perasannya melihat Arai.</p>
<p>Melihatku pilu, kupikir Arai akan ikut terharu tapi ia malah tersenyum dan pelan-pelan ia merogohan tangan ke dalam kacung kecampangnya. Air mukanya memberi kesan ia memiliki sebuah benda ajaib nan rahasia.</p>
<p>“Ikal, lihatlah ini!” bujuknya.</p>
<p>Dari dalam karung tadi ia mengeluarkan sebuah benda mainan yang aneh. Aku melirik benda itu dan aku makin pedih membayangkan ia membuat mainan itu sendiri, memainkannya juga sendiri di tengah-tengah ladang tebu. Aku tersedu sedan.</p>
<p>Tapi bagaimanapun perih hatiku aku tertarik. Mainan itu semacam gasing yang dibuat dari potongan-potongan lidi aren dan di ujung lidi-lidi itu ditancapkan beberapa butir buah kenari tua yang telah dilubangi. Sepintas bentuknya seperti helikopter. Jalinan lidi pada mainan itu agaknya mengandung konstruksi mekanis. Aku tergoda melihat Arai memutar-mutar benda itu setengah lingkaran untuk mengambil ancang-ancang. Setelah beberapa putaran, sebatang lidi besar yang menjadi tuas konstruksi itu melengkung lalu saat putaran terakhir dilepaskan, ajaib! Lengkungan tadi melawan arah menimbulkan tendangan tenaga balik yang memelintir gasing aneh itu dengan sempurna 360 derajat, berulang-ulang. Lebih seru lagi, putaran balik tadi menyebabkan butir-butir kenari saling beradu menimbulkan harmoni suara gemeretak yang menakjubkan. Aku tergelak. Mata Arai bersinar-sinar.</p>
<p>Aku tersenyum tapi tangisku tak reda karena seperti mekanika gerak balik helikopter aneh itu, Arai telah memutarbalikkan logika sentimental ini. Ia justru berusaha menghiburku pada saat aku seharusnya menghiburnya. Dadaku sesak.</p>
<p>“Cobalah, Ikal”</p>
<p>Aku merebut gasing itu, mengamatinya dengan teliti, bukan hanya sebagai mainan yang menarik hati tapi sebagai sebuah kisah tentang anak kecil yang menciptakan mainan untuk melupakan kepedihan hidupnya.</p>
<p>Aku memutar gasing itu sekali, dan terperanjat sebab tiba-tiba ia berputar sendiri dengan keras sehingga konstruksinya bingkas, lidi-lidinya patah, dan buah-buah kenari itu berhamburan ke mukaku. Aku telah memutarnya terlalu kencang. Arai terkekeh melihatku. Ia memegangi perutnya menahan tawa. Belum hilang terkejutku, Arai kembali merogohkan tangannya ke dalam karung kecampang.</p>
<p>“Masih ada lagi!”</p>
<p>Ia tersenyum penuh arti karena tahu telah berhasil menghiburku. Kali ini ia mengeluarkan sebuah cupu dari kayu medang yang berlubang-lubang. Biasa dipakai orang Melayu untuk menyimpan tembakau. Tak kusangka cupu itu telah dibelah dan sambungannya tak kasat. Arai membukanya pelan-pelan.</p>
<p>“Aiih, kumbang sagu!”</p>
<p>Aku memekik tak terkendali. Kumbang sagu, serangga mainan langka yang susah ditangkap. Jika dipelihara dan diberi makan remah kelapa, kumbang bersayap mengilat seperti tameng patriot Spartan itu dapat menjadi jinak. Tak berkedip aku melihat Arai membiarkan kumbang itu merayapi lengannya. Makhluk yang memesona itu meloncat-loncat kecil ingin terbang. Arai membelai serangga kecil itu, menggenggamnya dengan lembut lalu melemparkannya ke udara.</p>
<p>Ditiup angin kencang di atas truk kumbang itu meregangkan sayap-sayapnya, mengapung sebentar, berputar-putar merayakan kemerdekaannya lalu melesat menembus rimbun dedaunan kemang di tepi jalan. Lalu Arai melangkah menuju depan bak truk. Ia berdiri tegak di sana serupa orang berdiri di hidung haluan kapal. Pelan-pelan ia melapangkan kedua lengannya dan membiarkan angin menerpa wajahnya. Ia tersenyum penuh semangat. Agaknya ia juga bertekad memerdekakan diri­nya dari duka mengharu biru yang membelenggunya seumur hidup. Ia telah berdamai dengan kesedihan dan siap menantang nasibnya. Jahitan kancing bajunya yang rapuh satu per satu terlepas hingga bajunya melambai-lambai seperti sayap kumbang sagu tadi. Ia menggoyang-goyang tubuhnya bak rajawali di angkasa.</p>
<p>“Dunia! Sambutlah aku &#8230;! Ini aku, Arai, datang untukmu&#8230;!” Pasti itu maksudnya.</p>
<p>Ayahku tersenyum mengepalkan tinjunya kuat-kuat dan aku ingin tertawa sekeras-kerasnya, tapi aku juga ingin menangis sekeras-kerasnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andrea-hirata.com/2009/10/31/sang-pemimpi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laskar Pelangi &#8211; The Rainbow Troops</title>
		<link>http://andrea-hirata.com/2009/10/31/laskar-pelangi/</link>
		<comments>http://andrea-hirata.com/2009/10/31/laskar-pelangi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 12:16:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Belitong]]></category>
		<category><![CDATA[Bentang]]></category>
		<category><![CDATA[Laskar Pelangi]]></category>
		<category><![CDATA[Mizan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andrea-hirata.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[
BAB 1  Sepuluh Murid Baru
PAGI itu, waktu aku masih kecil, aku du­duk di bangku panjang di depan sebuah ke­las. Sebatang pohon filicium tua yang rin­dang meneduhiku. Ayahku duduk di sam­pingku, memeluk pundakku dengan kedua lengannya dan tersenyum meng­angguk-ang­guk pada setiap orangtua dan anak-anaknya yang duduk berderet-deret di bangku pan­jang lain di depan kami. Hari itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://andrea-hirata.com/wp-content/uploads/LP.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-128" style="margin: 5px;" title="LP" src="http://andrea-hirata.com/wp-content/uploads/LP-193x300.jpg" alt="LP" width="193" height="300" /></a></p>
<p><strong>BAB</strong><strong> 1  Sepuluh Murid Baru</strong></p>
<p><strong>PAGI</strong> itu, waktu aku masih kecil, aku du­duk di bangku panjang di depan sebuah ke­las. Sebatang pohon <em>filicium</em> tua yang rin­dang meneduhiku. Ayahku duduk di sam­pingku, memeluk pundakku dengan kedua lengannya dan tersenyum meng­angguk-ang­guk pada setiap orangtua dan anak-anaknya yang duduk berderet-deret di bangku pan­jang lain di depan kami. Hari itu adalah hari yang agak penting: hari pertama masuk Sekolah Dasar.</p>
<p>Di ujung bangku panjang tadi terdapat  sebuah pintu terbuka. Kosen pintu itu miring karena seluruh bangunan sekolah sudah doyong seolah akan roboh. Di mulut pintu berdiri dua orang guru se­perti para penyambut tamu dalam perhelatan. Mereka ada­lah seorang bapak tua berwajah sabar, Bapak K.A. Harfan Efendy Noor, sang kepala sekolah, dan seorang wa­nita muda berjilbab, Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu Mus. Seperti ayahku, mereka berdua juga tersenyum.</p>
<p>Namun, senyum Bu Mus adalah senyum getir yang dipaksakan karena jelas beliau sedang cemas. Wa­jah­nya tegang dan gerak-geriknya gelisah. Ia berulang kali menghitung jumlah anak-anak yang duduk di bangku pan­jang. Ia demikian khawatir sehingga tak peduli pada peluh yang mengalir masuk ke pelupuk matanya. Titik-titik keringat yang bertimbulan di seputar hidungnya menghapus bedak tepung beras yang dikenakannya, mem­buat wajah­nya coreng moreng seperti pemeran emban bagi permaisuri dalam <em>Dul Muluk</em>, sandiwara kuno kampung kami.</p>
<p>“Sembilan orang … baru sembilan orang Pamanda Gu­ru, masih kurang satu…,” katanya gusar pada bapak kepala sekolah. Pak Harfan menatapnya kosong.</p>
<p>Aku juga merasa cemas. Aku cemas karena melihat Bu Mus yang resah dan karena beban perasaan ayahku men­jalar ke sekujur tubuhku. Meskipun beliau begitu ramah pa­gi ini tapi lengan kasarnya yang melingkari leherku meng­alirkan degup jantung yang cepat. Aku tahu beliau sedang gugup, dan aku maklum bahwa tak mudah bagi seorang pria berusia empat puluh tujuh tahun, buruh tam­bang yang beranak banyak dan bergaji kecil, untuk menye­rahkan anak laki-lakinya ke sekolah. Lebih mudah me­nye­­­rahkannya pada tauke pasar pagi untuk jadi tukang parut, atau pada juragan pantai untuk menjadi kuli kopra agar dapat membantu ekonomi keluarga. Menyekolahkan anak berarti mengikatkan diri pada biaya selama belasan ta­hun dan hal itu bukan perkara gampang bagi keluarga kami.</p>
<p><em>“Kasihan ayahku ….”</em></p>
<p>Aku tak sampai hati memandang wajahnya.</p>
<p><em>“Barangkali sebaiknya aku pulang saja, melupakan ke­inginan sekolah, dan mengikuti jejak beberapa abang dan sepupu-sepupuku, menjadi kuli ….”</em></p>
<p>Tapi agaknya bukan hanya ayahku yang gentar. Setiap wajah orangtua di depanku mengesankan bahwa mereka tidak sedang duduk di bangku panjang itu, karena pikiran me­reka, seperti pikiran ayahku, melayang-layang ke pasar pagi membayangkan anak lelakinya lebih baik jadi pesuruh di sana. Para orangtua ini sama sekali tak yakin bahwa pendidikan anaknya, yang hanya mampu mereka biayai paling tinggi sampai SMP, akan dapat mempercerah masa depan keluarga. Pagi ini mereka terpaksa berada di sekolah ini demi menghindarkan diri dari celaan aparat desa karena tak menyekolahkan anak, atau sebagai orang yang terjebak tuntutan zaman baru, tun­tutan memerdekakan anak dari buta huruf.</p>
<p>Aku mengenal para orangtua dan anak-anaknya yang duduk di depanku. Kecuali seorang anak lelaki kecil kotor berambut keriting merah yang meronta-ronta dari pegangan ayahnya. Ayahnya itu tak beralas kaki dan bercelana kain be­lacu. Aku tak mengenal anak beranak itu.</p>
<p>Selebihnya adalah teman baikku. Trapani misalnya, yang duduk di pangkuan ibunya, atau Kucai yang duduk di samping ayahnya, atau Sahara, yang dari tadi marah-marah saja pada ibunya karena ia ingin segera masuk kelas, atau Syahdan yang tak diantar siapa-siapa. Kami bertetangga dan kami adalah orang-orang Me­layu Belitong dari sebuah komunitas yang paling miskin di pulau itu. Adapun sekolah ini, Sekolah Dasar  Muhammadiyah, juga sekolah kampung yang paling miskin di Belitong. Ada tiga alasan mengapa para orangtua mendaftarkan anaknya di sini. Pertama, karena sekolah Muhammadiyah tidak me­netapkan iuran dalam bentuk apa pun, para orangtua hanya menyumbang sukarela semampu mereka. Kedua, ka­rena firasat, anak-anak mereka dianggap memiliki karakter yang mudah disesatkan iblis sehingga sejak usia muda ha­rus mendapat pendadaran Islam yang tangguh. Ketiga, karena anaknya memang tak diterima di sekolah mana pun.</p>
<p>Bu Mus yang kian risau memancang pandang ke jalan raya berharap kalau-kalau masih ada pendaftar baru. Kami prihatin melihat harapan hampa itu. Maka tidak seperti suasana di Sekolah Dasar lain yang penuh kegembiraan ketika menerima murid ang­katan baru, suasana hari pertama di Sekolah Dasar  Muhammadiyah penuh dengan kegamangan, dan yang paling gamang adalah Bu Mus dan Pak Harfan.</p>
<p>Guru-guru yang sederhana itu berada dalam situasi genting karena Pengawas Sekolah dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sumatera Selatan telah memperingatkan: jika Sekolah Dasar  Muhammadiyah ha­nya mendapat murid baru kurang dari sepuluh orang maka se­kolah paling tua di Belitong ini harus ditutup. Karena itu Bu Mus dan Pak Harfan cemas sebab sekolah mereka akan tamat riwayatnya, sedangkan para orangtua cemas ka­rena biaya, dan kami, sembilan anak-anak kecil ini—yang terperangkap di tengah—cemas kalau-kalau tak jadi sekolah.</p>
<p>Tahun lalu Sekolah Dasar Muhammadiyah hanya mendapatkan sebelas siswa. Tahun ini Pak Harfan pesimis dapat me­menuhi target sepuluh. Maka diam-diam beliau telah mem­persiapkan sebuah pidato pembubaran sekolah di depan para orangtua murid. Kenyataan bahwa beliau hanya memerlukan satu siswa lagi untuk me­menuhi target itu menyebabkan pidato ini akan menjadi se­­suatu yang menyakitkan hati.</p>
<p>“Kita tunggu sampai pukul sebelas,” kata Pak Harfan pada Bu Mus dan orang-orang tua murid yang telah pasrah. Su­asana hening.</p>
<p>Wajah Bu Mus sembab menahan air mata. Aku dapat memahami perasaannya, karena harapannya pasti sama besar dengan harapan kami yang sangat ingin sekolah.  Hari ini adalah hari pertama Bu Mus menjadi guru, sebuah cita-cita yang telah diidam-idamkannya sejak lama. Minggu lalu ia baru menamatkan Sekolah Kepandaian Putri, setingkat Sekolah Mengenah Pertama, di Ibukota kabupaten, Tanjong Pandan. Usianya baru lima belas tahun. Namun sayang, semangatnya yang menggebu-gebu untuk menjadi guru akan dipatahkan oleh kenyataan yang paling pahit, yaitu sekolah terancam bubar karena kekurangan murid.</p>
<p>Bu Mus mematung di bawah lonceng memandangi lapangan sekolah yang luas dan jalan raya. Tak seorangpun muncul. Matahari kian tinggi menjelang tengah hari, menunggu satu murid bak menggantang asap.</p>
<p>Sementara itu, para orangtua mungkin menganggap kekurangan satu murid sebagai pertanda bagi anak-anaknya bahwa mereka me­mang sebaiknya didaftarkan pada para juragan saja. Adapun aku dan anak-anak yang lain merasa amat pedih: pedih pada orangtua kami yang tak mampu, pedih menyaksikan detik-detik terakhir sebuah sekolah tua yang tutup justru pada hari pertama kami ingin sekolah, dan pedih pada niat kuat kami untuk belajar tapi tinggal selangkah lagi harus terhenti hanya karena kekurangan satu murid. Kami menunduk dalam-dalam.</p>
<p>Saat itu sudah pukul sebelas kurang lima. Bu Mus tak dapat menyembunyikan kegundahannya. Cita-citanya yang besar untuk sekolah melarat ini akan gugur bahkan sebelum ia memulainya, dan tiga puluh dua tahun peng­abdian tanpa pamrih Pak Harfan,  akan ber­akhir di pagi yang sendu ini.</p>
<p>“Baru sembilan orang Pamanda Guru &#8230;,” ucap Bu Mus ber­getar sekali lagi. Ia sudah tak bisa berpikir jernih. Ia ber­ulang kali mengucapkan hal yang sama yang telah di­ketahui semua orang. Suaranya berat selayaknya orang yang tertekan batinnya.</p>
<p>Akhirnya, waktu habis karena telah pukul sebelas lewat lima dan jumlah murid tak juga genap sepuluh. Se­mangat besarku untuk sekolah perlahan-lahan runtuh. Aku melepaskan lengan ayahku dari pundakku. Sahara me­nangis terisak-isak mendekap ibunya karena ia benar-benar ingin sekolah di Sekolah Dasar Muhammadiyah. Ia memakai sepatu, kaus kaki, jilbab, dan baju, serta telah punya buku-buku, botol air minum, dan tas punggung yang semuanya baru.</p>
<p>Pak Harfan menghampiri orangtua murid dan me­nya­lami mereka satu per satu. Sebuah pemandangan yang pilu. Para orangtua menepuk-nepuk bahunya untuk mem­besar­kan hatinya. Mata Bu Mus berkilauan karena air mata yang menggenang. Pak Harfan berdiri di depan para orangtua, wa­jahnya tampak putus asa. Beliau bersiap-siap memberi­kan pidato ter­akhir. Namun ketika beliau akan mengucapkan kata pertama <em>Assalamu&#8217;­alaikum</em> seluruh ha­dirin terperanjat karena Trapani berteriak sambil menun­juk ke pinggir lapangan sekolah</p>
<p>“Harun!”</p>
<p>Kami serentak menoleh dan di kejauhan tampak se­orang pria kurus tinggi berjalan terseok-seok. Pakaian dan sisiran rambutnya sangat rapi. Ia berkemeja lengan panjang putih yang dimasukkan ke dalam. Kaki dan langkahnya mem­bentuk huruf x sehingga saat berjalan seluruh tubuh­nya bergoyang-goyang hebat. Seorang wanita gemuk sete­ngah baya yang berseri-seri susah payah memeganginya. Pria itu adalah Harun, pria jenaka sahabat kami semua, yang sudah berusia lima belas tahun, sama dengan usia Bu Mus. Harun agak terbelakang men­talnya. Ia sangat gembira dan berjalan cepat setengah berlari,  tak sabar ingin menghampiri kami. Ia tak menghiraukan ibunya yang <em>tercepuk-cepuk</em> kewalahan menggandengnya.</p>
<p>Mereka berdua hampir kehabisan napas ketika tiba di depan Pak Harfan.</p>
<p>“Bapak Guru …,” kata ibunya terengah-engah.</p>
<p>“Terimalah Harun. Sekolah Luar Biasa hanya ada di Pulau Bangka. Kami tak punya biaya untuk menyekolahkan­nya ke sana.“</p>
<p>Harun membekapkan kedua tangannya di dada. Ia riang tak kepalang. Ibunya menyambung</p>
<p>“Lagi pula lebih baik kutitipkan dia di sekolah ini daripada di rumah kerjanya hanya mengejar-ngejar anak-anak ayamku ….”</p>
<p>Harun tersenyum lebar memamerkan gigi-giginya yang kuning panjang-panjang.</p>
<p>Pak Harfan juga tersenyum, beliau melirik Bu Mus sam­bil mengangkat bahunya.</p>
<p>“Genap sepuluh orang …,” katanya.</p>
<p>Harun telah menyelamatkan kami, kami pun ber­sorak. Sahara berdiri tegak merapikan lipatan jilbabnya dan menyandang tasnya dengan gagah, ia tak mau duduk lagi. Bu Mus tersipu. Air mata guru muda ini surut dan ia me­nye­ka keringat di wajahnya yang belepotan karena ber­campur dengan bedak tepung beras.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andrea-hirata.com/2009/10/31/laskar-pelangi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

