Topics:

Posts Tagged ‘Bentang’

Maryamah Karpov – Mimpi-Mimpi Lintang

Bab 13  Lelaki Berwajah Dangdut Kampungku, tak terbilang purnama aku telah meninggalkanmu. Bus turun perlahan. Awan gemawan mengapung ren­dah, seperti singgasana yang rapuh. Kawanan angin me­ngejarku setelah menelisik daun-daun jarum cemara, bersiut-siut di atas jalanan yang didesaki ilalang, bersenda gurau melintasi danau-danau bening laksana kemilau batu mulia the blue topaz. Bus makin dekat melingkari kampung, lalu aku disambut »

Read More »

Edensor

Mozaik 6  Rahasia Gravitasi Ketika pertama kali melihatnya, melihat paras kukunya, lebih tepatnya, aku merasa seperti dipeluk arus Sungai Linggang, berenang bersama lumba-lumba, dijemput jutaan kunang-kunang, lalu diterbangkan menuju bintang. Ia tersenyum, aku tak dapat bernapas. “Namaku A Ling …,” katanya menyalamiku, menggenggam hatiku. Ingin kusampaikan satu nama terbaik dari deretan nama agung pemberian ayahku, tapi tak »

Read More »

Sang Pemimpi – The Dreamer

Mozaik 2 Simpai Keramat Arai adalah orang kebanyakan. Laki-laki seperti dia selalu bertengkar dengan tukang parkir sepeda, meributkan uang dua ratus perak. Orang seperti dia  sering duduk di bangku panjang kantor pegadaian menunggu barangnya ditaksir. Barangnya itu dulang tembaga busuk kehijau-hijauan peninggalan neneknya. Kalau polisi menciduk gerombolan bromocorah pencuri kabel telepon, orang berwajah serupa Arai »

Read More »

Laskar Pelangi – The Rainbow Troops

BAB 1  Sepuluh Murid Baru PAGI itu, waktu aku masih kecil, aku du­duk di bangku panjang di depan sebuah ke­las. Sebatang pohon filicium tua yang rin­dang meneduhiku. Ayahku duduk di sam­pingku, memeluk pundakku dengan kedua lengannya dan tersenyum meng­angguk-ang­guk pada setiap orangtua dan anak-anaknya yang duduk berderet-deret di bangku pan­jang lain di depan kami. Hari itu »

Read More »

Lebih Jauh

Maryamah Karpov – Mimpi-Mimpi Lintang

Bab 13  Lelaki Berwajah Dangdut
Kampungku, tak terbilang purnama aku telah meninggalkanmu.
Bus turun perlahan. Awan gemawan mengapung ren­dah, seperti singgasana yang rapuh. Kawanan angin me­ngejarku setelah menelisik daun-daun jarum cemara, bersiut-siut di atas jalanan yang didesaki ilalang, bersenda gurau melintasi danau-danau bening laksana kemilau batu mulia the blue topaz.
Bus makin dekat melingkari kampung, lalu aku disambut [...]

Edensor

Mozaik 6  Rahasia Gravitasi
Ketika pertama kali melihatnya, melihat paras kukunya, lebih tepatnya, aku merasa seperti dipeluk arus Sungai Linggang, berenang bersama lumba-lumba, dijemput jutaan kunang-kunang, lalu diterbangkan menuju bintang. Ia tersenyum, aku tak dapat bernapas.
“Namaku A Ling …,” katanya menyalamiku, menggenggam hatiku. Ingin kusampaikan satu nama terbaik dari deretan nama agung pemberian ayahku, tapi tak [...]

Sang Pemimpi – The Dreamer

Mozaik 2 Simpai Keramat
Arai adalah orang kebanyakan. Laki-laki seperti dia selalu bertengkar dengan tukang parkir sepeda, meributkan uang dua ratus perak. Orang seperti dia  sering duduk di bangku panjang kantor pegadaian menunggu barangnya ditaksir. Barangnya itu dulang tembaga busuk kehijau-hijauan peninggalan neneknya. Kalau polisi menciduk gerombolan bromocorah pencuri kabel telepon, orang berwajah serupa Arai [...]